BAB
VI
Guru
Honorer = Pekerja Serabutan
Keyakinanku
untuk dapat mengangkat derajat keluargaku masih sangat kuyakini akan terwujud
suatu saat nanti. Namun dari segi ekonomi saya mulai mempertanyakannya,
bagaimana bisa terwujud jika pendapatan setiap bulannya tidak terlalu besar.
Setiap bulannya saya selalu menabung uangku sebagian, entah tujuannya untuk
apa, awalnya untuk modal saya menikah nantinya, walaupun calonnya belum ada.
Kemudian ketika kakak perempuanku menikah uang itu terpakai semua untuk
membantu kakakku, itu karena nasihat ibu ku, “di.. bantuin uang buat kakaknya
nikah, nanti kalau adi nikah gantian,” begitu ucapnya. Kemudian niatku mengumpulkan
uang untuk menikah tertunda, dan akhirnya saya mengumpulkan lagi, entah untuk
apa nantinya.
Karena
kakaku sudah berkeluarga, jadi yang membantu ibuku otomatis berkurang. Saya
harus lebih giat lagi mencari uang untuk membantu ibuku. Saya mulai berfikir
jika setiap bulannya saya hanya mengandalkan pendapatan dari guru, saya rasa
tidak cukup. Bukannya meragukan atas kuasaNya, saya percaya jika rezeky sudah
diatus sedemikian rupa. Namun Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika
kaum tersebut tidak berusaha. Jadi saya terus berusaha dan berdoa untuk
mendapatkan yang terbaik.
Menjadi
guru memang membuat saya banyak waktu kosongnya, saya berfikir bagaimana saya
memanfaatkan waktu kosong ini agar dapat bermanfaat. Banyak orang berkata jika
saya “worka holic” orang yang terlalu gila akan pekerjaan. Saya justru berharap
seperti itu, karena pada dasarnya saya ini adalah seorang yang sangat malas.
Mungkin ini yang dinamakan jalan yang ditunjukan oleh Allah kepada hambaNya.
Saya yang sedang mencari guru, berharap mendapatkan pekerjaan lain, atau
pekerjaan sambilan. Benar saja, saya mendapatkan broadcast lowongan pekerjaan
dari mantan pacar saya ketika masa kuliah. Langsung saja saya menghubungi dia,
dan menanyakan apakah benar yang dia share. Dan ternyata memang benar,
kebetulan dia pun juga ikut melamar pada pekerjaan itu. Lalu kita saling
bertemu dan bersama melamar di perusahaan tersebut. Alhamdulilah kita berdua
diterima di pekerjaan tersebut.
Dan
saya mempunyai firasat baik terhadap pekerjaan yang baru saja saya terima ini,
menurut saya inilah jalannya saya menjadi guru. Sebab pekerjaan yang saya
dapatkan ini adalah pekerjaan freelance atau paruh waktu, dapat dikerjakan
dimana saja dan kapan saja. Jadi pekerjaan ini saya mengolah data dari
perusahaan dan pembayarannya sesuai jumlah data yang saya kerjakan secara
online. Kini selain saya mengajar di 4 sekolah saya juga bekerja paruh waktu di
setiap malam mengerjakan data perusahaan tersebut. Lelah memang, tapi saya rasa
ini setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Alhamdulillah setiap bulannya jika
di kalkulasikan pendapatan saya mencapai UMR Jakarta dan kadang lebih.
Ternyata
tidak hanya saya saja yang memiliki pekerjaan sambilan, rekan kerja guru
honorer saya pun banyak sekalai yang memiliki pekerjaan lain, selain guru. Pak
Djoko teman guru saya, beliau guru matematika yang mengajar di 2 sekolah, dan
ternyata dia juga bekerja sebagai ojek online. Pak Nanda teman guru sejarah
saya, selain dia mengajar dia punya usaha took baju di tanah abang. Dan masih
banyak sekali teman guru honor saya yang memiliki pekerjaan sambilan, dan
rata-rata banyak juga yang bekerja di bimbel selain menjadi guru di sekolah
formal.
Dari
sini saya berfikir beginilah kehidupan guru honorer, seperti pekerja serabutan
apa saja yang menurutnya bisa dikerjakan mereka lakukan selagi halal. Dan
memang banyak prinsip yang mereka tanamkan, menjadi guru bukanlah tujuan mereka
untuk menjadi orang yang kaya akan materi, tapi mencari sebuah keberkahan. Jika
mereka ingin menjadi kaya mereka pasti sudah mencari pekerjaan lain. Bukan
karena malu dengan pekerjaan lain yang dipandang rendah, buktinya sampai
profesi tukang ojekpun dilakoni oleh mereka, jadi sungguh betapa mulianya
pekerjaan guru ini. Karena keberkahan dari mengajar sangat berpengaruh untuk
rezeky yang kita dapatkan.
Jangan
samakan rezeky dengan uang, karena itu satu hal yang berbeda. Uang adalah
sebagian kecil dari rezeky, sebab rezeky sangat banyak sekali kategorinya.
Ketika kita diberi kemudahan dalam berbagai urusan, itu termasuk rezeky, ketika
kita masih diberikan nikmat sehat wal afiat, sungguh rezeky yang tak terhingga
dari Allah, masih sangat banyak sekali kenikmatan yang diberikan kepada
hambaNya. Oleh karenanya jangan sekali-sekali kita menghardik rezeky yang kita
dapatkan, selalu syukuri apa yang di dapat. Sebab barang siapa yang mensyukuri
nikmatuKu, maka akan Ku tambah. Itu yang selama ini saya pelajari dan insyallah
selalu ku terapkan.
Mungkin
banyak dari kalian yang memakan mentah-mentah pemikiranku ini, dengan alasan
itu hanya pemikiran orang yang gagal mencari pekerjaan yang diinginkan dengan
gaji besar, tetapi mencoba tetap tegar dengan pemikiran yang sedemikian rupa.
Agar terlihat lebih baik dengan menjadi guru dengan pemikiran seperti itu
adalah sebuah kesalahan, pemikiran ini saya dapatkan sendiri, buah dari
pengalaman saya menjadi guru honorer. Ternyata memang benar mencari uang tidak
perlu banyak, yang terpenting berkah. Artinya percuma kita mencari uang yang
begitu banyak tetapi tidak berkah, yang pada akhirnya terbuang sia-sia karena
sebuah musibah. Segala sesuatunya sudah di atur oleh Allah, termasuk rezeky. Jadi
jangan sekali-sekali berkata”ah Cuma segini gaji gue” tapi “alhamdulilah rezeky
yang saya dapatkan”. Ingat masih banyak orang yang nasibnya kurang beruntung
seperti kita, sekali-kali lihatlah kebawah untuk bersyukur, dan lihat keatas
untuk memotivasi diri, bukan malah membuat iri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar