Senin, 14 September 2020

CATATAN GURU HONORER #6 Guru Honorer = Pekerja Serabutan

 

BAB VI

Guru Honorer = Pekerja Serabutan

Keyakinanku untuk dapat mengangkat derajat keluargaku masih sangat kuyakini akan terwujud suatu saat nanti. Namun dari segi ekonomi saya mulai mempertanyakannya, bagaimana bisa terwujud jika pendapatan setiap bulannya tidak terlalu besar. Setiap bulannya saya selalu menabung uangku sebagian, entah tujuannya untuk apa, awalnya untuk modal saya menikah nantinya, walaupun calonnya belum ada. Kemudian ketika kakak perempuanku menikah uang itu terpakai semua untuk membantu kakakku, itu karena nasihat ibu ku, “di.. bantuin uang buat kakaknya nikah, nanti kalau adi nikah gantian,” begitu ucapnya. Kemudian niatku mengumpulkan uang untuk menikah tertunda, dan akhirnya saya mengumpulkan lagi, entah untuk apa nantinya.

Karena kakaku sudah berkeluarga, jadi yang membantu ibuku otomatis berkurang. Saya harus lebih giat lagi mencari uang untuk membantu ibuku. Saya mulai berfikir jika setiap bulannya saya hanya mengandalkan pendapatan dari guru, saya rasa tidak cukup. Bukannya meragukan atas kuasaNya, saya percaya jika rezeky sudah diatus sedemikian rupa. Namun Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha. Jadi saya terus berusaha dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik.

Menjadi guru memang membuat saya banyak waktu kosongnya, saya berfikir bagaimana saya memanfaatkan waktu kosong ini agar dapat bermanfaat. Banyak orang berkata jika saya “worka holic” orang yang terlalu gila akan pekerjaan. Saya justru berharap seperti itu, karena pada dasarnya saya ini adalah seorang yang sangat malas. Mungkin ini yang dinamakan jalan yang ditunjukan oleh Allah kepada hambaNya. Saya yang sedang mencari guru, berharap mendapatkan pekerjaan lain, atau pekerjaan sambilan. Benar saja, saya mendapatkan broadcast lowongan pekerjaan dari mantan pacar saya ketika masa kuliah. Langsung saja saya menghubungi dia, dan menanyakan apakah benar yang dia share. Dan ternyata memang benar, kebetulan dia pun juga ikut melamar pada pekerjaan itu. Lalu kita saling bertemu dan bersama melamar di perusahaan tersebut. Alhamdulilah kita berdua diterima di pekerjaan tersebut.

Dan saya mempunyai firasat baik terhadap pekerjaan yang baru saja saya terima ini, menurut saya inilah jalannya saya menjadi guru. Sebab pekerjaan yang saya dapatkan ini adalah pekerjaan freelance atau paruh waktu, dapat dikerjakan dimana saja dan kapan saja. Jadi pekerjaan ini saya mengolah data dari perusahaan dan pembayarannya sesuai jumlah data yang saya kerjakan secara online. Kini selain saya mengajar di 4 sekolah saya juga bekerja paruh waktu di setiap malam mengerjakan data perusahaan tersebut. Lelah memang, tapi saya rasa ini setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Alhamdulillah setiap bulannya jika di kalkulasikan pendapatan saya mencapai UMR Jakarta dan kadang lebih.

Ternyata tidak hanya saya saja yang memiliki pekerjaan sambilan, rekan kerja guru honorer saya pun banyak sekalai yang memiliki pekerjaan lain, selain guru. Pak Djoko teman guru saya, beliau guru matematika yang mengajar di 2 sekolah, dan ternyata dia juga bekerja sebagai ojek online. Pak Nanda teman guru sejarah saya, selain dia mengajar dia punya usaha took baju di tanah abang. Dan masih banyak sekali teman guru honor saya yang memiliki pekerjaan sambilan, dan rata-rata banyak juga yang bekerja di bimbel selain menjadi guru di sekolah formal.

Dari sini saya berfikir beginilah kehidupan guru honorer, seperti pekerja serabutan apa saja yang menurutnya bisa dikerjakan mereka lakukan selagi halal. Dan memang banyak prinsip yang mereka tanamkan, menjadi guru bukanlah tujuan mereka untuk menjadi orang yang kaya akan materi, tapi mencari sebuah keberkahan. Jika mereka ingin menjadi kaya mereka pasti sudah mencari pekerjaan lain. Bukan karena malu dengan pekerjaan lain yang dipandang rendah, buktinya sampai profesi tukang ojekpun dilakoni oleh mereka, jadi sungguh betapa mulianya pekerjaan guru ini. Karena keberkahan dari mengajar sangat berpengaruh untuk rezeky yang kita dapatkan.

Jangan samakan rezeky dengan uang, karena itu satu hal yang berbeda. Uang adalah sebagian kecil dari rezeky, sebab rezeky sangat banyak sekali kategorinya. Ketika kita diberi kemudahan dalam berbagai urusan, itu termasuk rezeky, ketika kita masih diberikan nikmat sehat wal afiat, sungguh rezeky yang tak terhingga dari Allah, masih sangat banyak sekali kenikmatan yang diberikan kepada hambaNya. Oleh karenanya jangan sekali-sekali kita menghardik rezeky yang kita dapatkan, selalu syukuri apa yang di dapat. Sebab barang siapa yang mensyukuri nikmatuKu, maka akan Ku tambah. Itu yang selama ini saya pelajari dan insyallah selalu ku terapkan.

Mungkin banyak dari kalian yang memakan mentah-mentah pemikiranku ini, dengan alasan itu hanya pemikiran orang yang gagal mencari pekerjaan yang diinginkan dengan gaji besar, tetapi mencoba tetap tegar dengan pemikiran yang sedemikian rupa. Agar terlihat lebih baik dengan menjadi guru dengan pemikiran seperti itu adalah sebuah kesalahan, pemikiran ini saya dapatkan sendiri, buah dari pengalaman saya menjadi guru honorer. Ternyata memang benar mencari uang tidak perlu banyak, yang terpenting berkah. Artinya percuma kita mencari uang yang begitu banyak tetapi tidak berkah, yang pada akhirnya terbuang sia-sia karena sebuah musibah. Segala sesuatunya sudah di atur oleh Allah, termasuk rezeky. Jadi jangan sekali-sekali berkata”ah Cuma segini gaji gue” tapi “alhamdulilah rezeky yang saya dapatkan”. Ingat masih banyak orang yang nasibnya kurang beruntung seperti kita, sekali-kali lihatlah kebawah untuk bersyukur, dan lihat keatas untuk memotivasi diri, bukan malah membuat iri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar