BAB IV
TITIK BALIK
Saat
saya duduk di bangku 4 SD keluarga kami terkena musibah, saat itu Bapakku jatuh
sakit, hampir setahun Bapakku sakit dan telah mencoba berbagai macam
pengobatan, namun tidak menemukan titik terang. Hingga timbul desas desus dari
orang kalau Bapakku di guna-guna, apapun itu saya dan keluargsaya ingin agar
Bapakku di sembuhkan dari penyakitnya.
Setelah
hampir setahun Bapakku jatuh sakit, dan pada akhirnya beliau di panggil oleh
yang Maha Kuasa. Keadaan saat itu di rumah hanya ada saya dan ibuku, kakak dan
adikku sedang sekolah, hanya ada tetangga-tetangga yang membantu. Air matapun
jatuh dari seorang ibuku dengan sangat histeris, pikiranku saat itu masih
pendek, namun kutahu kalau saya akan kehilangan Bapakku selamanya, dan
tangispun takkan bisa tertahankan. Sampai mengantarkan ke tempat peristirahatan
terakhir, tangis dari seorang ibuku dan keluarga tak terhenti-henti.
Setelah
meninggalnya Bapakku, kehidupan keluargsaya pun berubah derastis, ibuku
merangkap dua jabatan dalam keluarga ini, yang pertama sebagai ibu rumah
tangga, dan kedua sebagai tulang punggung keluarga yang harus menopang
kehidupan keluarga ini. Demi menyekolahan ketiga anaknya, beliau rela bekerja
banting tulang, siang dan malam, tanpa henti demi kelancaran sekolah kami. Dari
menjadi kuli cuci pakaian, pembantu rumah tangga, berjualan, dll.
Seiring
waktu berjalan kami tumbuh dewasa, kakakku sudah menyelesaikan sekolah menengah
kejuruannya, setelah lulus kaka saya langsung bekerja di salah satu hotel
ternama di Jakarta. Dan ikut membantu membiayai kebutuhan keluarga dan
adik-adinya yang masih bersekolah dan beban ibuku sedikit terbantu. Dan sayapun
masuk SMA. Bukan hanya umur yang bertambah, namun pengalaman, wawasan, dan
kedewasaanpun bertambah. Dari sini saya sudah mulai berfikir, posisiku dalam
keluarga ini. Dengan meninggalnya Bapakku, otomatis lelaki tertua dalam
keluarga ini adalah saya sendiri, dan secara tidak langsung saya harus mampu
menggantikan peranan kepala keluarga di sini, dalam artian menjaga keutuhan
keluarga ini. Namun saya ingin meringankan beban yang tertancap di pundak
ibuku, entah bagaimana caranya saya harus mampu membiayai kebutuhan hidupku
sendiri, lalu saya mulai mencari duit demi kebutuhan sehari-hariku, dari
menjadi tukang parkir di masjid, mengamen, dan pekerjaan lainnya, dan yang
terpenting saya memperoleh rezeky yang halal. Tak terasa sedikit lagi saya akan
melepas seragam putih abu-abu, banyak rencana yang sudah saya pikirkan setelah
saya lulus SMA. Salah satunya saya ingin langsung bekerja dan membiarkan ibuku
untuk beristirahat dan menikmati masa tuanya. Namun takdir berbicara lain.
Saya
sejak SD bersekolah dibantu dari yayasan sampai SMA, yayasan sangat membantuku
dalam kesuksesan bersekolahku. Pada suatu hari sebelum saya menempuh Ujian Nasional
salah satu kaka yayasan yang bernama Rizki mendatangi dan berbicara kepadsaya,
menanyakan mau kemana saya setelah lulus SMA.? Dengan tegas saya menjawab, saya
ingin langsung bekerja, entah apa pekerjaannya, yang terpenting saya dapat
meringankan beban orang tusaya. Namun ka Rizki berbicara lagi kepadsaya, “lalu
pekerjaan apa yang akan kau dapatkan denga tamatan SMA.? OB, itupun kalo dapet,
kalo tidak. Lebih baik kau meneruskan sekolahmu kejenjang yang lebih tinggi,
dengan kuliah hidupmu dimasa depan akan lebih terjamin. Tak usah kau memikirkan
biaya, masalah biaya nanti yayasan yang akan mengurus.” Lalu saya terdiam dan
berfikir. Dan ka Rizkipun memberi saya waktu untuk berfikir.
Saya
langsung membicarakan hal ini kepada ibuku. Memepertimbangkan apa yang terbaik
unukku dan keluarga ku. Lalu ibuku pun setuju untuk melanjutkan pendidikan ku
ke jenjang yan lebih tinggi. Namun di dalam hatiku masih ada gejolak untuk
menerimanya, namun saya berfikir tidak ada salahnya untuk dicoba.
Lalu
saya ikutlah ujian masuk perguruan tinggi negeri, tanpa persiapan apapun, saya
mengikuti ujian tersebut. Sambil menunggu hasilnya, saya selalu berdoa kepada
Allah untuk memeberikan yang terbaik untukku. Lalu saat-saat pengumuman
ujianpun datang, apapun hasilnya, saya tau itulah yang terbaik yang di berikan
oleh Allah kepadsaya. Dan hasilnyapun tak disangka saya diterima di Universitas
Negeri Jakarta dan saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Entah perasaan
apa yang saya rasakan setelah mengetahui hasil tersebut, bangga, senang, sedih,
tidak percaya, semua menjadi satu. Entah apa yang direncanakan oleh Allah
kepadsaya. Namun sebesar apapun rencana kita, rencana Allah lebih hebat dan
besar dari apapun.
Entah
apa jadi kedepannya, saya hanya bisa menerima. Mulai saat itu saya mulai sadar,
dalam hidup ini jangan kau jadikan impianmu, tujuanmu, atau rencanamu menjadi
sebuah acuan, karena itu akan menjadikan sebuah ambisi yang meracunimu. saya
tidak tau apa yang akan terjadi di sana, namun yang saya tau terus jalani hidup
yang kita hadapi sekarang dengan sepenuh hati, apapun yang kita hadapi saat
ini, itu akan mempengaruhi apa yang kita dapatkan dikemudian hari.
Setelah
saya diterima di Universitas, otomatis rencana awal saya tidak terealisasikan,
entah apa perasaan ibuku dan keluargsaya mendengar saya diterima di Universitas
Negeri, namun saya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, saya telah
mengalahkan beratus-ratus mungkin beribu-ribu orang untuk masuk ke Universitas
ini.
Ketika
saya masuk dunia perkuliahan ada rasa bangga pada diri saya, namun tentu saja
ada sedikit rasa iri melihat teman-teman SMA saya sudah mulai melangkah kedepan
mencari rezeki untuk masa depan, dan saya masih disini berdiam diri. Namun saya
tau berdiam diriku adalah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari
sekencang-kencangnya kedepan, saya yakin itu. Dan sampai saat ini pertanyaanku
sewaktu kecil, tentang apa tujuannya saya dilahirkan di dunia ini belum saya
temukan jawabannya. Namun yang saat ini saya tau adalah setiap manusia sudah
dituliskan takdirnya dalam kehidupan sewaktu masih didalam Rahim, tinggal
bagaimana kita mampu menjalani hidup ini
dengan sepenuh hati, kearah yang lebih baik. Dan mungkin tujuan saya dilahirkan
di dunia ini, dalam keluarga ini, menjadi anak kedua dari tiga bersaudara,
diberi nama oleh orang tua saya dengan nama Adi Ciputra, saya yakin akan mampu
mengubah diriku sendiri ke arah yang lebih baik, dan membawa keluarga ini
kekehidupan yang lebih baik, hanya itu yang saya tau saat ini.