Jumat, 24 Juli 2020

CATATAN GURU HONORER #4 TITIK BALIK

BAB IV

TITIK BALIK

Saat saya duduk di bangku 4 SD keluarga kami terkena musibah, saat itu Bapakku jatuh sakit, hampir setahun Bapakku sakit dan telah mencoba berbagai macam pengobatan, namun tidak menemukan titik terang. Hingga timbul desas desus dari orang kalau Bapakku di guna-guna, apapun itu saya dan keluargsaya ingin agar Bapakku di sembuhkan dari penyakitnya.

Setelah hampir setahun Bapakku jatuh sakit, dan pada akhirnya beliau di panggil oleh yang Maha Kuasa. Keadaan saat itu di rumah hanya ada saya dan ibuku, kakak dan adikku sedang sekolah, hanya ada tetangga-tetangga yang membantu. Air matapun jatuh dari seorang ibuku dengan sangat histeris, pikiranku saat itu masih pendek, namun kutahu kalau saya akan kehilangan Bapakku selamanya, dan tangispun takkan bisa tertahankan. Sampai mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, tangis dari seorang ibuku dan keluarga tak terhenti-henti.

Setelah meninggalnya Bapakku, kehidupan keluargsaya pun berubah derastis, ibuku merangkap dua jabatan dalam keluarga ini, yang pertama sebagai ibu rumah tangga, dan kedua sebagai tulang punggung keluarga yang harus menopang kehidupan keluarga ini. Demi menyekolahan ketiga anaknya, beliau rela bekerja banting tulang, siang dan malam, tanpa henti demi kelancaran sekolah kami. Dari menjadi kuli cuci pakaian, pembantu rumah tangga, berjualan, dll.

Seiring waktu berjalan kami tumbuh dewasa, kakakku sudah menyelesaikan sekolah menengah kejuruannya, setelah lulus kaka saya langsung bekerja di salah satu hotel ternama di Jakarta. Dan ikut membantu membiayai kebutuhan keluarga dan adik-adinya yang masih bersekolah dan beban ibuku sedikit terbantu. Dan sayapun masuk SMA. Bukan hanya umur yang bertambah, namun pengalaman, wawasan, dan kedewasaanpun bertambah. Dari sini saya sudah mulai berfikir, posisiku dalam keluarga ini. Dengan meninggalnya Bapakku, otomatis lelaki tertua dalam keluarga ini adalah saya sendiri, dan secara tidak langsung saya harus mampu menggantikan peranan kepala keluarga di sini, dalam artian menjaga keutuhan keluarga ini. Namun saya ingin meringankan beban yang tertancap di pundak ibuku, entah bagaimana caranya saya harus mampu membiayai kebutuhan hidupku sendiri, lalu saya mulai mencari duit demi kebutuhan sehari-hariku, dari menjadi tukang parkir di masjid, mengamen, dan pekerjaan lainnya, dan yang terpenting saya memperoleh rezeky yang halal. Tak terasa sedikit lagi saya akan melepas seragam putih abu-abu, banyak rencana yang sudah saya pikirkan setelah saya lulus SMA. Salah satunya saya ingin langsung bekerja dan membiarkan ibuku untuk beristirahat dan menikmati masa tuanya. Namun takdir berbicara lain.

Saya sejak SD bersekolah dibantu dari yayasan sampai SMA, yayasan sangat membantuku dalam kesuksesan bersekolahku. Pada suatu hari sebelum saya menempuh Ujian Nasional salah satu kaka yayasan yang bernama Rizki mendatangi dan berbicara kepadsaya, menanyakan mau kemana saya setelah lulus SMA.? Dengan tegas saya menjawab, saya ingin langsung bekerja, entah apa pekerjaannya, yang terpenting saya dapat meringankan beban orang tusaya. Namun ka Rizki berbicara lagi kepadsaya, “lalu pekerjaan apa yang akan kau dapatkan denga tamatan SMA.? OB, itupun kalo dapet, kalo tidak. Lebih baik kau meneruskan sekolahmu kejenjang yang lebih tinggi, dengan kuliah hidupmu dimasa depan akan lebih terjamin. Tak usah kau memikirkan biaya, masalah biaya nanti yayasan yang akan mengurus.” Lalu saya terdiam dan berfikir. Dan ka Rizkipun memberi saya waktu untuk berfikir.

Saya langsung membicarakan hal ini kepada ibuku. Memepertimbangkan apa yang terbaik unukku dan keluarga ku. Lalu ibuku pun setuju untuk melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yan lebih tinggi. Namun di dalam hatiku masih ada gejolak untuk menerimanya, namun saya berfikir tidak ada salahnya untuk dicoba.

Lalu saya ikutlah ujian masuk perguruan tinggi negeri, tanpa persiapan apapun, saya mengikuti ujian tersebut. Sambil menunggu hasilnya, saya selalu berdoa kepada Allah untuk memeberikan yang terbaik untukku. Lalu saat-saat pengumuman ujianpun datang, apapun hasilnya, saya tau itulah yang terbaik yang di berikan oleh Allah kepadsaya. Dan hasilnyapun tak disangka saya diterima di Universitas Negeri Jakarta dan saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Entah perasaan apa yang saya rasakan setelah mengetahui hasil tersebut, bangga, senang, sedih, tidak percaya, semua menjadi satu. Entah apa yang direncanakan oleh Allah kepadsaya. Namun sebesar apapun rencana kita, rencana Allah lebih hebat dan besar dari apapun.

Entah apa jadi kedepannya, saya hanya bisa menerima. Mulai saat itu saya mulai sadar, dalam hidup ini jangan kau jadikan impianmu, tujuanmu, atau rencanamu menjadi sebuah acuan, karena itu akan menjadikan sebuah ambisi yang meracunimu. saya tidak tau apa yang akan terjadi di sana, namun yang saya tau terus jalani hidup yang kita hadapi sekarang dengan sepenuh hati, apapun yang kita hadapi saat ini, itu akan mempengaruhi apa yang kita dapatkan dikemudian hari.

Setelah saya diterima di Universitas, otomatis rencana awal saya tidak terealisasikan, entah apa perasaan ibuku dan keluargsaya mendengar saya diterima di Universitas Negeri, namun saya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, saya telah mengalahkan beratus-ratus mungkin beribu-ribu orang untuk masuk ke Universitas ini.

Ketika saya masuk dunia perkuliahan ada rasa bangga pada diri saya, namun tentu saja ada sedikit rasa iri melihat teman-teman SMA saya sudah mulai melangkah kedepan mencari rezeki untuk masa depan, dan saya masih disini berdiam diri. Namun saya tau berdiam diriku adalah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari sekencang-kencangnya kedepan, saya yakin itu. Dan sampai saat ini pertanyaanku sewaktu kecil, tentang apa tujuannya saya dilahirkan di dunia ini belum saya temukan jawabannya. Namun yang saat ini saya tau adalah setiap manusia sudah dituliskan takdirnya dalam kehidupan sewaktu masih didalam Rahim, tinggal bagaimana kita  mampu menjalani hidup ini dengan sepenuh hati, kearah yang lebih baik. Dan mungkin tujuan saya dilahirkan di dunia ini, dalam keluarga ini, menjadi anak kedua dari tiga bersaudara, diberi nama oleh orang tua saya dengan nama Adi Ciputra, saya yakin akan mampu mengubah diriku sendiri ke arah yang lebih baik, dan membawa keluarga ini kekehidupan yang lebih baik, hanya itu yang saya tau saat ini.


CATATAN GURU HONORER #3 SEJARAH KELUARGA

BAB III

SEJARAH KELUARGA

Saya berusaha ikhlas untuk tetap menjalani kenyataan ini, pemikiran-pemikiran yang saya cari demi membela keadaan saya terus saya lakukan untuk memperteguh pendirian saya. Walaupun terkadang bisa saja runtuh oleh beberapa sebab. Ketika saya mendengar cerita-cerita sukses teman-teman seangkatan saya, dan kemudian melihat keadaan saya yang sekarang, rasanya seperti bom atom yang dijatuhkan kehati saya, hancur semuanya. Ketika saya berfikir, “teman saya yang dari background keluarga yang mapan, sepertinya terlihat mudah menjalani hidup ini, nasibnya sangat bagus, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. Sedangkan saya yang bercita-cita merubah nasib ekonomi keluarga saya kearah yang lebih baik, untuk melangkah satu langkah kedepan rasanya sulit sekali.” Pemikiran-pemikiran seperti ini yang membuat saya down. Apakah saya kurang bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan? Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran dan ingin melihat saya berusaha lebih keras lagi, atau mungkin Tuhan marah terhadap tingkah laku saya di dunia ini, saya hanya bisa menerka sesuatu yang belum tentu akan saya ketahui nantinya.

Meyakinkan apa yang kita pilih itulah hal yang tersulit bagi saya, dengan mengajar di 4 sekolah tentu hati saya harus yakin untuk berada dalam dunia pendidikan, agar saya dapat menjalani dengan baik pekerjaan yang ini. Berusaha focus untuk apa yang sedang saya kerjakan, dan berusaha menutup mata dan telingaku terhadap apa yang didapatkan teman-teman saya, agar tidak timbul rasa iri dan dengki menjadi salah satu cara saya untuk memantapkan apa yang saya tekuni.

Sebenarnya tidak begitu sulit mencari pekerjaan selain guru, dengan berbekal ijazah S1 tentu itu mudah, namun yang membuatnya sulit ialah gengsi. Jelas saya sempat diterima di beberapa perusahaan dengan posisi marketing, namun saya tolak sebab marketing merupakan pekerjaan yang beresiko, dan sepertinya saya tidak bisa dipekerjaan ini. Kemudian beberapa menerima saya namun yang ia cari ialah lulusan SMA dengan pekerjaan standart lulusan SMA. Kemuadian jika saya terima, untuk apa saya kuliah 4 tahun jika pekerjaan yang saya dapat berstandart lulusan SMA. Kenapa tidak langsung saja dari dulu lulus SMA saya langsung bekerja, tidak usah kuliah. Memang terkadang saya menyesali mengapa dulu saya memilih untuk kuliah, sedangkan seharusnya saya langsung bekerja, karena saya harus membantu sekolah adikku dan meringankan beban keluagaku. Namun saya malah lebih memili kuliah, dan ketika saya kuliah adik saya malah bekerja, kata orang-orang kok kebalik harusnya kakanya yang kerja, adiknya kuliah dulu.

Mengapa saya tidak ingin kuliah, dan bersikeras untuk bekerja setelah lulus SMA dahulu. Karena perjalanan keluarga saya yang terlalu terjal untuk dapat hidup yang layak. Mungkin beberapa orang hanya mengenalku seperti apa yang mereka lihat dipermukaan, namun mereka tidak mengetahui bagaimana latar belakangku, dan apa yang ada di benakku. Memang masih banyak yang nasibnya jauh lebih parah dari pada saya, saya tidak menepiskannya. Tetapi memang inilah yang terjadi pada kehidupan saya dan inilah sebuah sejarah keluarga yang melekat pada kehidupan saya.

Dahulu sewaktu saya kecil, saya selalu takut akan namanya kematian. Ada seribu pertanyaan di pikiranku apa benar tentang adanya kematian, apakah manusia semua akan mati, dan bisakah kita berlari untuk menghindari kematian tersebut. Sewaktu kecil setiap saya mendengar akan suara petir dan hujan badai yang besar saya selalu menangis. Satu-satunya pikiran yang ada di otak saya waktu itu adalah apakah ini sudah saatnya kiamat (akhir jaman). Asumsi tersebut selalu berada di otakku dan membuat saya ketakutan.

Salah satu faktor yang membuat saya takut akan kematian adalah, saya takut kehilangan anggota keluarg saya, ketakutan tidak bisa bertemu keluarga lagi di kehidupan yang lain menjadi ketakutan yang amat besar. Mungkin waktu kecil saya salah satu anak tercengeng dari saudara-saudara saya yang lain, namun saya salah satu anak yang sangat menyayangi semua anggota keluargsaya.

Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara, mungkin ayah dan Ibuku merupakan orangtua terhebat di dunia ini. Keluarga kami sangat harmonis, namun semua keluarga pasti ada masalah yang datang, setiap ada masalah keluarga kami selalu bisa menyelesaikannya dengan baik. Mungkin masalah yang sudah saya rasakan belum ada apa-apanya dengan apa yang dirasakan kedua orang tusaya.

Bapakku termasuk keturunan dari keluarga yang bisa di bilang kaya. Dan ibuku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun cinta memang tak memandang kasta, kelas, ras, dan lain-lain, dan tidak ada alasan untuk menjelaskan bagaimana cinta itu muncul. Ketika ayah dan ibuku menikah dan membentuk sebuah keluarga, mereka memulai kehidupan baru dari titik nol. Perjuangan hidup mereka untuk membentuk suatu keluarga yang harmonis sangat dramatis menurutku. Mereka selalu menceritakan bagaimana mereka bertemu dan akhirnya menikah, cerita tersebut selalu ku dengar ketika menjelang tidur.

Bapakku merupakan anak pertama dikeluarganya, keluarga Bapakku merupakan perpaduan antara orang jawa dan betawi, mbah ksayang dari jawa dan mbah putri dari betawi. Mereka tinggal di Jakarta. Keluarga Bapakku sangat dipandang dan dihormati oleh masyarakat sekitar, dari segi ekonomi, sosial, sampai agama. Memang mbah ksayang salah satu pemuka agama. Tetapi Bapakku memang dahulu sangat nakal kelsayaannya, nakal dalam sekolah dan pergaulan. Sampai saat Bapakku bertemu dengan Ibuku, pertemuan mereka pertama kali di pasar, saat itu ibuku sedang berada di dalam bajaj, Bapakku yang sedang nongkrong di pasar melihat ibuku dari luar, sontak langsung lompat ke dalam bajaj tersebut hanya untuk berkenalan.

Memang ibuku dari orang jawa tepatnya di purwokerto, sangat kontras dari keluarga Bapakku, ibuku dibesarkan dari keluarga yang miskin. Ditinggal meninggal kedua orangtuanya pada usia 11 tahun, pada saat itu ibuku menjadi salah satu tulang punggung keluarga untuk menafkahi adik-adiknya. Sehingga pada saat umur yang masih belia, ibuku merantau ke Jakarta untuk bekerja menjadi ibu rumah tangga, sempat ibuku pernah bercerita pengalamannya menjadi pekerja rumah tangga yang ditipu oleh majikannya. Majikan saat itu orang cina, ibuku sempat dikurung di gudang selama seharian penuh, tanpa dikasih makan dan minum, akhirnya ibuku nekat melarikan diri melalui fentilasi udara di ruangan tersebut. Ibuku lari dan tak tahu mau kemana. Mendengar ibuku cerita seperti itu, membuatku iba dan semangat untuk membahagiakan ibuku. Terlepas dari masalah tersebut, dengan ibuku merantau ke Jakarta pada saat itulah ayah dan ibuku dipertemukan.

Bapakku sangat menyukai ibuku pada saat pertama kali bertemu, mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Bapakku yang seperti preman pasar pada saat itu memberanikan diri untuk memulai hubungan dengan ibuku. Walaupun hubungan mereka terhalang restu orangtua Bapakku, tepatnya dari mbah putri, dia tidak setuju jika Bapakku menikah dengan ibuku. Tetapi halangan tersebut dapat mereka lalui untuk membangun bahtera rumah tanggga yang diimpikan. Mereka pada akhirnya menikah, dan memulai segalanya dari nol. Itulah hidup selalu ada lika liku kehidupan, tidak selamanya menemui jalan lurus, terkadang kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih untuk melanjutkan perjalanan.

Hingga pada akhir ayah dan ibuku dikaruniai 3 anak kakakku perempuan dan 2 anak lelaki (saya dan adikku).Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sangat sulit. Masih sangat teringat di pikiranku kejadian dimana keadaan keluarga kami sangat krisis, sampai-sampai untuk makan kami hanya bisa menikmati perpaduan nasi dengan garam saja. Walaupun saat itu masih kecil, namun kejadian itu sangat membekas di benak pikiranku hingga kini.

Sempat saya menyesali mengapa saya dilahirkan di keluarga seperti ini, dan saya sempat berfikir mengapa hidup ini tidak bisa memilih, andai saya bisa memilih, saya akan memilih untuk dilahirkan di keluarga yang kaya raya. Tetapi semua itu hanya sebuah khayalan belaka. Keluarga saya memang seperti ini adanya, namun saya sangat mencintai seluruh anggota keluarga saya.


CATATA GURU HONORER #2 INSPIRATOR

BAB II

INSPIRATOR

Dari bergerilya mencari pekerjaan di perusahaan, kini saya juga bergerilya menaruh-naruh lamaran di sekolah-sekolah. Hanya bermodal nekat dan amplop lamaran saya mendatangi sekolah-sekolah, entah ada posisi lowongan atau tidak, setidaknya saya telah mencoba. Dan akhirnya kini saya mengajar di 4 sekolah. Mungkin banyak dari kalian yang tidak percaya, kok bisa? Bagaimana mengatur waktunya? Pertanyaan itu juga terlontar dari teman-teman guru saya. Sebelum saya jawab, saya ingin menceritakan mengapa saya mau mengajar di 4 sekolah sekaligus, yang tadinya saya enggan untuk terjun kedunia pendidikan.

Memang yang namanya belajar itu adalah kata kerja yang tiada hentinya. Teruslah belajar sampai akhir menutup hayat, prinsip itulah yang berusaha saya pegang. Walaupun saya sudah lulus kuliah bukan berarti belajar juga telah selesai, saya berharap bisa terus belajar guna meningkatkan kualitas diri saya. Belajar bukan berarti di dalam kelas, dari buku, ataupun dari tugas-tugas kuliah saja, belajar juga bisa dapat didapatkan dari diskusi dengan seseorang, melihat kehidupan dengan berbagai perspektif sehingga dapat menemukan makna kehidupan yang kita tafsirkan sendiri.

Menjadi guru membuatku banyak belajar, belajar dari pengalaman, pemahaman dalam perenungan kehidupan, setidaknya dapat membuat sedikit lebih bijaksana. Saya akui memang kemampuanku masih jauh dari kata cukup untuk menjadi pribadi yang baik, dan dengan menjadi guru saya sedikit banyak dapat mengupgrade softskill dan hardskill saya. Ketika saya menjadi guru, saya banyak bertemu teman-teman guru yang menginspirasi saya. Sayapun tak malu untuk belajar dari beliau-beliau yang sudah senior, mengambil yang baik-baiknya. Ketika saya mengajar di SMP 17 agustus yakni sekolah pertama saya dalam mengawali karir di dunia pendidikan, saya bertemu oleh guru matematika Ali Masrokan, M.Pd, saya biasa memanggilnya pa ali. Dia adalah salah satu teman guru senior yang menginspirasi saya dalam mengajar di 4 sekolah. Walaupun sebenarnya dia adalah guru baru di smp tersebut dibanding saya yang lebih dulu mengajar di SMP 17 agustus ini, jadi pemikiran saya, sayalah yang lebih senior dari pada dia. Pemikiran sombong dan idelisme seperti itu akhirnya terkalahkan oleh sifat dan pembawaan pak ali dalam bergaul terhadap guru-guru dan lingkungan baru, itu yang membuatku salut. Saya sedikit banyak belajar dari beliau, dan kisahnya menjadi guru membuat saya mau untuk serius dalam menekuni bidang pendidikan.

Pak ali begitu sapaannya, beliau pria kelahiran grobogan jawa timur, yang merantau ke Jakarta bersama ayahnya. Dia dibesarkan oleh seorang ayah penjual batagor keliling, yang sering mangkal di sekolah-sekolah. Walau hanya pedagang kaki lima ayahnya bisa menyekolahkan anaknya sampai menempuh pendidikan S2. Bisa dikatakan pa kali anak yang nakal semasa mudanya, sedikit banyak beliau menceritakan bagaimana masa lalunya dahulu, cerita pertemanan, persaudaraan, kehidupan, sampai kepersoalan asmara. Beliau selalu menyarankanku untuk segera menikah, saya selalu menanggapinya dengan tawa ketika dia menyerukan untuk menikah, karena usia saya terlalu dini untuk menjalin rumah tangga, kata-kata bujukannya ia selalu berkata “Di, udeh nikah, nunggu ape lagi lo? Nikah tuh 90% enak, 10% nye weeenaaakk banget”. Kemudian pak ali menceritakan bagaimana dia mengawali rumah tangganya, menurut saya dia orang yang nekat. Beliau memutuskan menikah di usia muda yakni 22 tahun, nekat karena pada saat itu pekerjaannya hanya seorang guru honorer yang gajinya tidak besar, dan dia masih menempuh kuliahnya. Namun beliau cerita pesan ayahnya “ngapain lo takut ga bisa nafkahin istri lo nanti, lo liat nih bapak lo Cuma tukang batagor, bisa nafkahin emak lo sama anak-anaknya sampe kuliah. Rezeky udah diatur apalagi kalo lo udah menikah rezeky lo dapet dua buat nafkahin anak istri lo nanti.” Pesan tersebut yang membuatnya yakin untuk menjalin bahtera rumah tangga.

Setelah berani untuk menikah dengan niat yang baik, benar saja jalannya dalam dunia pendidikan sangatlah cemerlang. Dengan menjadi guru honorer mengajar di satu sekolah dirasa pendapatannya tidak mencukupi, pak ali mengajar di hampir 5 sekolah dalam seminggu. Yang terpenting menurut beliau niat kita untuk mengajar dan berbagi ilmu harus lurus, karena disitu letak keberkahannya, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, dan jangan sekali-sekali ngedumel tentang pendapatan lo “ah… Cuma segini gaji gue” jangan, selalu bersyukur “Alhamdulilah..” orang yang bersyukur akan ditambah rezekynya. Dengan niat yang lurus pak ali dipermudah jalannya dalam karir dan sudah diangkat menjadi guru PNS. Kebetulan istrinya pak ali adalah seorang guru juga dan sudah diangkat PNS sebelum pak ali diangkat. Sungguh cerita yang meninspirasi menurut saya, semua didasari dari rasa ikhlas dan tulus, dan selalu bersyukur akan nikmat-Nya.

Ikhlas merupakan persoalan yang rumit menurut saya, dapat kita ucapkan dimulut namun sulit diresapi di dalam hati. Terkadang saya bisa meneguhkan hati saya untuk menjalani pekerjaan guru ini dengan ikhlas, namun terkadang juga keyakinanku runtuh ketika melihat teman-temanku sudah bekerja dengan gaji yang cukup besar dibanding saya. Hal tersebut yang membuat saya sedih dan iri mungkin. Oleh karenanya saya juga mensiasati penghasilan saya dengan mengajar di 4 sekolah. Jadi terjawab mengapa saya mengajar di 4 sekolah sekaligus, pertama saya terinspirasi dari pak Ali, kedua saya berusaha mensiasati pendapatan saya sebulan dari mengajar di 4 skolah, dan ketiga karena saya berfikir jika saya hanya mengajar di satu atau dua sekolah, masih banyak waktu kosong saya di setiap harinya, dan pertimbangan-pertimbangan tersebutlah yang membuat saya mengajar di 4 sekolah.