Senin, 14 September 2020

CATATA GURU HONORER #7 MULAI CINTA

 BAB VII

MULAI CINTA

Menurut saya guru bukanlah seseorang pintar, melainkan guru adalah seseorang yang tulus. Mereka tulus memberikan ilmu yang dimilikinya untuk anak didiknya tanpa rasa pamrih, jika semua guru pintar mungkin sulit menemukan guru yang tulus, jika mereka hanya mengandalkan logikanya mungkin mereka hanya memikirkan untuk kepentingan pribadinya saja, dan memikirkan bagaimana untuk menjadi orang kaya. Namun tidak guru lebih mengandalkan hati nurani untuk tulus ikhlas memberikan ilmunya. Jika guru pintar dia tidak akan menjadi guru.

Semenjak saya sekolah dari tingkat TK, saya di urusi oleh yayasan ISCO masalah pendidikan sampai saya lulus S1. Yayasan tersebut berperan banyak dalam pendidikanku hingga saya mendapatkan gelar sarjana. Setelah saya lulus, ada harapan kecil saya juga dibantu dalam mencari pekerjaan, karena yayasan ini merupakan yayasan yang besar, dan pemiliknya orang eropa. Kemudian setelah saya lulus, saya berbincang dengan pendiri yayasan ISCO Mr. Joseph pada waktu kgiatan acara yayasan. Beliau bertanya kepadaku “setelah ini rencana mau bagaimana? Bekerja atau apa” kemudian saya menjawab “saya ingin bekerja mr.” kemudian beliau menanyakan ”lulusanmu S.Pd kan, mau bekerja menjadi guru?” kemudian saya menjawab dengan cepat “kemarin kaka yaysan menawari saya untuk bekerja di salah satu sponsor ISCO, dan saya mau bekerja di perusahaan tersebut, karena menjadi guru awalnya sangat tidak memungkinkan, gaji guru honorer sangat kecil mr.” kemudian beliau sambil menatapku dan terdiam, tak lama dia berbicara sangat panjang kepadaku. Dia bilang “jangan terpacu dalam uang dalam mencari pekerjaan, kamu adalah lulusan pertama yang mendapatan gelar S1 dari ISCO, sarjana pendidikan, 4 tahun kau bergelut untuk mendapatkan gelar tersebut, lalu jangan kau hancurkan karena pemikiranmu yang tidak luas. Kalau setelah ini kamu bekerja dengan gaji yang besar, dengan hanya menjaga took lulusan SMA pun juga bisa, buat apa kau kuliah, tidak semua orang bisa menjadi guru, namun guru bisa berasal dari berbagai kalangan. Jadilah panutan untuk adik-adikmu yang di ISCO, agar mereka bisa bercerita kakanya menjadi guru yang dipandang hebat. Jangan mematok cita-cita harus seperti ini, namun jika yang kau jalankan tidak sesuai bagaimana? Kamu mau berhenti? Tidak, tapi jalani sekarang yang ada di hadapanmu dengan baik, mau bagaimana di depannya itu urusan yang lain.” Masih sangat panjang nasehat yang beliau berikan kepadaku.

Sejak saat itu saya akan berusaha meneguhkan hati saya untuk menjadi seorang pendidik. Dan memang yang dikatakan mr. Joseph kepadaku ada benarnya, banyak sekali pengalaman-pengalaman yang membuatku lebih dewasa selama menjadi guru. Keinginanku kini untuk dapat menjadi inspirasi orang banyak, dan setidaknya dengan keberadaanku dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Dan menurutku saya masih perlu banyak belajar dalam membentu pribadi yang lebih baik lagi, itu mungkin tidak saya dapat di ranah pekerjaan lain, kecuali menjadi guru. Ini adalah lading amal sekaligus lading saya untuk menimba ilmu.

Pemikiranku pada waktu itu ketika masih kuliah, setelah lulus kulia saya akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar dan mengejar ketertinggalanku dari teman-temanku yang sudah bekerja, itu pemikiran yang salah. Sebab menurutku kuliah bukan tempat dimana kalian dibentuk untuk menjadi pekerja dengan gaji yang besar, itu bukan sebuah jaminan. Tetapi dunia kampus menempa kamu bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik lagi, membuka cakrawala pemikiran kamu untuk dapat berfikir secara lebih bijak lagi. Ini yang saya dapatkan dari dunia perkuliahan.

Kini saya terjebak dalam hati seorang guru, mungkin. Keinginan awal saya untuk tidak menjadi guru karena pendapatannya kecil, dan lebih memilih pekerjaan lain untuk mendapatkan gaji yang lebih besar, semakin lama semakin meluntur. Entah mengapa ketika saya mendapatkan pekerjaan lain, hati terasa sulit meninggalkan profesi guru ini. Entah apa yang membuat saya menjadi sangat berat meninggalkan profesi ini, sulit untuk saya ungkapkan. Meskipun kini ada tawaran di perusahaan lain, bukannya saya langsung menerimanya karena itu yang saya inginkan sejak awal, namun justru itu menjadi sebuah pertimbangan yang sangat berat. Apakah saya bisa meninggalkan profesi guru ini? Aapakah saya sanggup meniggalkan murid-muridku yang selalu dating menghampiriku dengan berbagai karakter dan sikap? Semua itu terasa sulit untuk aku tinggalkan. Saya rasa saya telah jatuh terlalu dalam mencintai profesi ini, entah sampai kapan saya tak tahu. Yang saya lakukan kini berusaha menjadi lebih baik lagi dalam menjadi guru, dan berharap pemerintah di Negara ini tahu langkah untuk memberantas kemiskinan ialah dari pendidikan, untuk hal tersebut lebih memperhatikan fasilitas pendidikan, termasuk guru honorer di dalamnya. 

CATATAN GURU HONORER #6 Guru Honorer = Pekerja Serabutan

 

BAB VI

Guru Honorer = Pekerja Serabutan

Keyakinanku untuk dapat mengangkat derajat keluargaku masih sangat kuyakini akan terwujud suatu saat nanti. Namun dari segi ekonomi saya mulai mempertanyakannya, bagaimana bisa terwujud jika pendapatan setiap bulannya tidak terlalu besar. Setiap bulannya saya selalu menabung uangku sebagian, entah tujuannya untuk apa, awalnya untuk modal saya menikah nantinya, walaupun calonnya belum ada. Kemudian ketika kakak perempuanku menikah uang itu terpakai semua untuk membantu kakakku, itu karena nasihat ibu ku, “di.. bantuin uang buat kakaknya nikah, nanti kalau adi nikah gantian,” begitu ucapnya. Kemudian niatku mengumpulkan uang untuk menikah tertunda, dan akhirnya saya mengumpulkan lagi, entah untuk apa nantinya.

Karena kakaku sudah berkeluarga, jadi yang membantu ibuku otomatis berkurang. Saya harus lebih giat lagi mencari uang untuk membantu ibuku. Saya mulai berfikir jika setiap bulannya saya hanya mengandalkan pendapatan dari guru, saya rasa tidak cukup. Bukannya meragukan atas kuasaNya, saya percaya jika rezeky sudah diatus sedemikian rupa. Namun Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha. Jadi saya terus berusaha dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik.

Menjadi guru memang membuat saya banyak waktu kosongnya, saya berfikir bagaimana saya memanfaatkan waktu kosong ini agar dapat bermanfaat. Banyak orang berkata jika saya “worka holic” orang yang terlalu gila akan pekerjaan. Saya justru berharap seperti itu, karena pada dasarnya saya ini adalah seorang yang sangat malas. Mungkin ini yang dinamakan jalan yang ditunjukan oleh Allah kepada hambaNya. Saya yang sedang mencari guru, berharap mendapatkan pekerjaan lain, atau pekerjaan sambilan. Benar saja, saya mendapatkan broadcast lowongan pekerjaan dari mantan pacar saya ketika masa kuliah. Langsung saja saya menghubungi dia, dan menanyakan apakah benar yang dia share. Dan ternyata memang benar, kebetulan dia pun juga ikut melamar pada pekerjaan itu. Lalu kita saling bertemu dan bersama melamar di perusahaan tersebut. Alhamdulilah kita berdua diterima di pekerjaan tersebut.

Dan saya mempunyai firasat baik terhadap pekerjaan yang baru saja saya terima ini, menurut saya inilah jalannya saya menjadi guru. Sebab pekerjaan yang saya dapatkan ini adalah pekerjaan freelance atau paruh waktu, dapat dikerjakan dimana saja dan kapan saja. Jadi pekerjaan ini saya mengolah data dari perusahaan dan pembayarannya sesuai jumlah data yang saya kerjakan secara online. Kini selain saya mengajar di 4 sekolah saya juga bekerja paruh waktu di setiap malam mengerjakan data perusahaan tersebut. Lelah memang, tapi saya rasa ini setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Alhamdulillah setiap bulannya jika di kalkulasikan pendapatan saya mencapai UMR Jakarta dan kadang lebih.

Ternyata tidak hanya saya saja yang memiliki pekerjaan sambilan, rekan kerja guru honorer saya pun banyak sekalai yang memiliki pekerjaan lain, selain guru. Pak Djoko teman guru saya, beliau guru matematika yang mengajar di 2 sekolah, dan ternyata dia juga bekerja sebagai ojek online. Pak Nanda teman guru sejarah saya, selain dia mengajar dia punya usaha took baju di tanah abang. Dan masih banyak sekali teman guru honor saya yang memiliki pekerjaan sambilan, dan rata-rata banyak juga yang bekerja di bimbel selain menjadi guru di sekolah formal.

Dari sini saya berfikir beginilah kehidupan guru honorer, seperti pekerja serabutan apa saja yang menurutnya bisa dikerjakan mereka lakukan selagi halal. Dan memang banyak prinsip yang mereka tanamkan, menjadi guru bukanlah tujuan mereka untuk menjadi orang yang kaya akan materi, tapi mencari sebuah keberkahan. Jika mereka ingin menjadi kaya mereka pasti sudah mencari pekerjaan lain. Bukan karena malu dengan pekerjaan lain yang dipandang rendah, buktinya sampai profesi tukang ojekpun dilakoni oleh mereka, jadi sungguh betapa mulianya pekerjaan guru ini. Karena keberkahan dari mengajar sangat berpengaruh untuk rezeky yang kita dapatkan.

Jangan samakan rezeky dengan uang, karena itu satu hal yang berbeda. Uang adalah sebagian kecil dari rezeky, sebab rezeky sangat banyak sekali kategorinya. Ketika kita diberi kemudahan dalam berbagai urusan, itu termasuk rezeky, ketika kita masih diberikan nikmat sehat wal afiat, sungguh rezeky yang tak terhingga dari Allah, masih sangat banyak sekali kenikmatan yang diberikan kepada hambaNya. Oleh karenanya jangan sekali-sekali kita menghardik rezeky yang kita dapatkan, selalu syukuri apa yang di dapat. Sebab barang siapa yang mensyukuri nikmatuKu, maka akan Ku tambah. Itu yang selama ini saya pelajari dan insyallah selalu ku terapkan.

Mungkin banyak dari kalian yang memakan mentah-mentah pemikiranku ini, dengan alasan itu hanya pemikiran orang yang gagal mencari pekerjaan yang diinginkan dengan gaji besar, tetapi mencoba tetap tegar dengan pemikiran yang sedemikian rupa. Agar terlihat lebih baik dengan menjadi guru dengan pemikiran seperti itu adalah sebuah kesalahan, pemikiran ini saya dapatkan sendiri, buah dari pengalaman saya menjadi guru honorer. Ternyata memang benar mencari uang tidak perlu banyak, yang terpenting berkah. Artinya percuma kita mencari uang yang begitu banyak tetapi tidak berkah, yang pada akhirnya terbuang sia-sia karena sebuah musibah. Segala sesuatunya sudah di atur oleh Allah, termasuk rezeky. Jadi jangan sekali-sekali berkata”ah Cuma segini gaji gue” tapi “alhamdulilah rezeky yang saya dapatkan”. Ingat masih banyak orang yang nasibnya kurang beruntung seperti kita, sekali-kali lihatlah kebawah untuk bersyukur, dan lihat keatas untuk memotivasi diri, bukan malah membuat iri.

CATATAN GURU HONORER #5 Gaji guru Honorer

 

BAB V

Gaji guru Honorer

Rasa puas manusia memang tiada habisnya, sudah mendapatkan apa yang diinginkannya masih terus saja merasa kurang, kepuasannya hanya bersifat sesaat. Ini terdapat pada setiap aspek kehidupan, entah dari segi materi, tahta, maupun wanita. Jika hal ini tidak dapat dikendalikan maka iri dan dengki akan menjadi penyakit hati yang mengakar pada diri manusia. Dan yang lebih fatal adalah krisis iman kepada yang maha kuasa, mulai mempertanyakan sebuah keadilan sebuah takdir yang diberikan Tuhan. Mulai membanding-bandingkan penuh perhitungan sebuah nasib yang dialami oleh diri sendiri dengan teman atau orang lain yang nasibnya di pikir lebih baik daripada dirinya, yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu dari sudut pandang mereka sendiri. Lalu apa obatnya dari penyakit tersebut? Kuncinya ialah bersyukur apa yang kita dapatkan dan berusaha untuk ikhlas dalam menjalani hidup ini. Jika menginginkan kehidupan yang kalian dambakan, ya teruslah berusaha bukan mengeluh, bila gagal jangan putus asa seolah-olah hidup ini telah berakhir, ambil hikmahnya dan teruslah berjalan.

Mengajar di 4 sekolah tentu hal yang sulit dilakukan mesti berlari-lari kesana kemari dalam keadaan bagaimanapun. Pertama saya adalah guru di SMP 17 agustus jam mengajar saya di hari selasa, rabu, jum’at siang sampai sore. Kedua saya mengajar di SMP tirta sari surya dengan jam mengajar saya di hari senin, kamis, dan sabtu siang. Ketiga saya mengajar di SMA Islam As-syafi’iyah 01 jam mengajar saya di jam Senin, Selasa, kamis, dan jum’at pagi. Dan keempat saya mengajar di SMP YASPI cilincing dengan jam mengajar di hari rabu pagi. Jadi jika dibuat jadwal kerja saya dari hari Senin-Sabtu sangatlah padat. Lelah sudah pasti, namun inilah sebuah realita guru honorer di Negara kita. Jika hanya mengandalkan mengajar di 1 sekolah saja mungkin tidak bisa mencukupi kehidupan di Jakarta.

Banyak orang berfikir dengan saya mengajar di 4 sekolah pendapatan saya juga besar, itu hal yang salah. Percaya atau tidak dengan saya mengajar di 4 sekolah belum memenuhi target saya mendapatkan gaji minimal UMR Jakarta yaitu Rp. 3.200.000. kok bisa? Sebenarnya saya malu menyebutkan pendapatan saya menjadi guru, tetapi ini adalah sebuah realita. Gaji pertama saya di SMP 17 agustus kurang lebih sebesar Rp. 600.000/ bulan. Kedua gaji saya di SMP Tirta sari surya sebesar kurang lebih Rp. 700.000/ bulan. Ketiga di SMA AS-Syafi’iyah 01 kurang lebih sebesar Rp. 1.000.000/ bulan. Dan keempat di SMP YASPI kurang lebih Rp.300.000/ bulan. Itu adalah hitungan bulat gaji saya, jadi jika saya total setiap bulannya pendapatan saya sebesar Rp.2.600.000 per bulan, masih sangat jauh dari harpan minimal saya.

Pembayaran guru honor ternyata sangat ironis, dan saya baru mengetahuinya ketika saya menjadi seorang guru honor. Saya jelaskan secara detail bagaimana system perhitungan pembayaran gaji guru honorer setiap bulannya. Kita sebagai guru dibayar sesuai dengan jumlah jam mengajar di sekolah, dengan nominal sesuai dengan ketentuan sekolah, artinya setiap sekolah berbeda-beda jumlah nominal perjamnya. Penyebutan 1 jam pelajaran itu sama dengan 45 menit waktu normal. Baik sebagai contoh perhitungannya, jika saya mengajar mata pelajaran IPS di SMP yang perjamnya dibayar Rp.22.000. kemudian saya mengajar 1 kelasnya memiliki bobot 4 jam pelajaran per minggu, jika saya dalam 1 minggu mengajar 4 kelas artinya jam mengajar saya adalah 4 jam x 4 kelas= 16 jam, berarti saya memiliki 16 jam mengajar per minggunya di sekolah tersebut. SEHARUSNYA menurut pemikiran awal saya jika dibayar setiap bulan artinya 1 bulan ada 4 minggu, berarti 16 jam per minggu dikali 4 minggu sama dengan 64 jam per bulan jika 64 jam x Rp 22.000= Rp.1.408.000, namun TIDAK Rp.1.408.000. Perhitngannya gaji perbulan itu adalah total jam di 1 minggu, jadi pembayaran 1 bulan adalah 16 jam perminggu x Rp.22.000= Rp.352.000, ini adalah honor jam mengajar yang kita terima untuk 1 bulan. Itu gaji untuk jam mengajar.

Kemudian perbulannya guru honorer di gaji dari honor jam mengajar dan honor transport. Honor transport adalah pembayaran setiap hari ketika datang ke sekolah untuk mengajar, missal 16 jam dibagi menjadi 3 hari setiap minggunya, senin selasa rabu, berarti 1 minggu saya datang 3 hari di sekolah tersebut, 3 x 4 minggu perbulan= 12, artinya 12 hari dalam setiap bulan saya dating ke sekolah untuk mengajar, jika honor transportnya 1 hari = Rp.20.000, berarti 12 x Rp.20.000= Rp.240.000, ini adalah honor transport setiap bulannya. Jika dijumlah dengan honor jam mengajar ialah, Rp.352,000+Rp.240.000= Rp.592.000, ini adalah gaji guru honor perbulannya. Memang pembayaran gaji guru di sekolah swasta berbeda-beda namun tidak jauh berbeda dari system tersebut.

Memang mengajar di sekolah swasta banyak uang sampingannya diluar honor tetap per bulannya, misalnya jika ada kegiatan-kegiatan diluar kegiatan belajar di sekolah, yang melibatkan guru, kita mendapatkan uang transport walaupun tidak besar. Kemudian jika pekan ujian kita mendapatkan uang mengawas, membuat soal, dan mengoreksi sesuai jumlah mata pelajaran dan kelas yang kita ajar, dll. Namun itu sifatnya tidak pasti dan tidak rutin selalu ada. Oleh karenanya saya menjadi guru pendapatan per bulannya tidak menentu, dan pintar-pintar saya bagaimana mensiasati pengelolaan pendapatan per bulannya agar bisa terlihat besar oleh orangtua.

Cita-cita saya masih sama seperti dahulu, ingin meringankan beban orangtua saya dari segi ekonomi, jadi setiap bulannya saya memberi gaji saya sebagian untuk orangtua saya, karena mau bagaimanapun saya sudah bekerja walau pendapatan tak menentu. Sekali waktu orangtua saya bertanya kepada saya tentang berapa besar gaji saya, saya gagap menjawabnya. Jika saya jujur, saya takut mengecewakan orangtua saya dan membuatnya sedih, jika dia sedih karena kasihan kepada diriku, sayalah orang yang paling sedih merasakan apa yang ibu saya rasakan. Akhirnya saya memutuskan untuk berbohong. “Nak, berapa gaji kamu jadi guru? Mama mau tau…” kemudian saya menjawab sambil mengulur waktu untuk berfikir “ya… kalo di jumlahin ya UMR ma, 3,2 juta. Alhamdulilah..” kemudian ibuku dengan wajah senangnya, “alhamdulilah.. kalau begitu bantuin mama bangun rumah yang di jawa ya…” kemudian dengan senyum yang saya paksakan saya jawab “iya ma,”. Setiap awal bulan ketika mendapat gaji, saya selalu menyimpannya slip dan amplop gajiku dari gaji yang saya dapat pertama kali sampai saat ini, dan menyembunyikan ditempat yang tidak diketahui ibuku, sebab disitu tertera nominal gajiku, saya takut ibuku mengetahui kebohonganku dan menjadi sedih. Karena ketika dia bersedih karena memikirkan diriku, saya lah orang yang paling terluka melihat beliau beredih.

Rumah yang keluargaku tinggali ini bukanlah milik pribadi, tetapi milik orangtua almarhum bapakku. Saya tidak tahu bagaimana dahulu rumah ini kita tinggali, entah diwariskan atau untuk sementara, ibuku pun tak tahu. Oleh karenanya ibuku membangun rumah di jawa untuk berjaga-jaga jikalau ada sesuatu hal yang membuat kita harus pergi dari rumah ini. Semoga harapan ibu saya dapat terwujud, dan saya bisa membantunya.