BAB
V
Gaji
guru Honorer
Rasa
puas manusia memang tiada habisnya, sudah mendapatkan apa yang diinginkannya
masih terus saja merasa kurang, kepuasannya hanya bersifat sesaat. Ini terdapat
pada setiap aspek kehidupan, entah dari segi materi, tahta, maupun wanita. Jika
hal ini tidak dapat dikendalikan maka iri dan dengki akan menjadi penyakit hati
yang mengakar pada diri manusia. Dan yang lebih fatal adalah krisis iman kepada
yang maha kuasa, mulai mempertanyakan sebuah keadilan sebuah takdir yang
diberikan Tuhan. Mulai membanding-bandingkan penuh perhitungan sebuah nasib
yang dialami oleh diri sendiri dengan teman atau orang lain yang nasibnya di
pikir lebih baik daripada dirinya, yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu dari
sudut pandang mereka sendiri. Lalu apa obatnya dari penyakit tersebut? Kuncinya
ialah bersyukur apa yang kita dapatkan dan berusaha untuk ikhlas dalam
menjalani hidup ini. Jika menginginkan kehidupan yang kalian dambakan, ya
teruslah berusaha bukan mengeluh, bila gagal jangan putus asa seolah-olah hidup
ini telah berakhir, ambil hikmahnya dan teruslah berjalan.
Mengajar
di 4 sekolah tentu hal yang sulit dilakukan mesti berlari-lari kesana kemari
dalam keadaan bagaimanapun. Pertama saya adalah guru di SMP 17 agustus jam
mengajar saya di hari selasa, rabu, jum’at siang sampai sore. Kedua saya
mengajar di SMP tirta sari surya dengan jam mengajar saya di hari senin, kamis,
dan sabtu siang. Ketiga saya mengajar di SMA Islam As-syafi’iyah 01 jam
mengajar saya di jam Senin, Selasa, kamis, dan jum’at pagi. Dan keempat saya
mengajar di SMP YASPI cilincing dengan jam mengajar di hari rabu pagi. Jadi
jika dibuat jadwal kerja saya dari hari Senin-Sabtu sangatlah padat. Lelah
sudah pasti, namun inilah sebuah realita guru honorer di Negara kita. Jika
hanya mengandalkan mengajar di 1 sekolah saja mungkin tidak bisa mencukupi
kehidupan di Jakarta.
Banyak
orang berfikir dengan saya mengajar di 4 sekolah pendapatan saya juga besar,
itu hal yang salah. Percaya atau tidak dengan saya mengajar di 4 sekolah belum
memenuhi target saya mendapatkan gaji minimal UMR Jakarta yaitu Rp. 3.200.000.
kok bisa? Sebenarnya saya malu menyebutkan pendapatan saya menjadi guru, tetapi
ini adalah sebuah realita. Gaji pertama saya di SMP 17 agustus kurang lebih sebesar
Rp. 600.000/ bulan. Kedua gaji saya di SMP Tirta sari surya sebesar kurang
lebih Rp. 700.000/ bulan. Ketiga di SMA AS-Syafi’iyah 01 kurang lebih sebesar
Rp. 1.000.000/ bulan. Dan keempat di SMP YASPI kurang lebih Rp.300.000/ bulan.
Itu adalah hitungan bulat gaji saya, jadi jika saya total setiap bulannya
pendapatan saya sebesar Rp.2.600.000 per bulan, masih sangat jauh dari harpan
minimal saya.
Pembayaran
guru honor ternyata sangat ironis, dan saya baru mengetahuinya ketika saya
menjadi seorang guru honor. Saya jelaskan secara detail bagaimana system
perhitungan pembayaran gaji guru honorer setiap bulannya. Kita sebagai guru
dibayar sesuai dengan jumlah jam mengajar di sekolah, dengan nominal sesuai dengan
ketentuan sekolah, artinya setiap sekolah berbeda-beda jumlah nominal
perjamnya. Penyebutan 1 jam pelajaran itu sama dengan 45 menit waktu normal.
Baik sebagai contoh perhitungannya, jika saya mengajar mata pelajaran IPS di
SMP yang perjamnya dibayar Rp.22.000. kemudian saya mengajar 1 kelasnya
memiliki bobot 4 jam pelajaran per minggu, jika saya dalam 1 minggu mengajar 4
kelas artinya jam mengajar saya adalah 4 jam x 4 kelas= 16 jam, berarti saya
memiliki 16 jam mengajar per minggunya di sekolah tersebut. SEHARUSNYA menurut
pemikiran awal saya jika dibayar setiap bulan artinya 1 bulan ada 4 minggu,
berarti 16 jam per minggu dikali 4 minggu sama dengan 64 jam per bulan jika 64
jam x Rp 22.000= Rp.1.408.000, namun TIDAK Rp.1.408.000. Perhitngannya
gaji perbulan itu adalah total jam di 1 minggu, jadi pembayaran 1 bulan adalah
16 jam perminggu x Rp.22.000= Rp.352.000, ini adalah honor jam mengajar
yang kita terima untuk 1 bulan. Itu gaji untuk jam mengajar.
Kemudian
perbulannya guru honorer di gaji dari honor jam mengajar dan honor transport.
Honor transport adalah pembayaran setiap hari ketika datang ke sekolah untuk
mengajar, missal 16 jam dibagi menjadi 3 hari setiap minggunya, senin selasa
rabu, berarti 1 minggu saya datang 3 hari di sekolah tersebut, 3 x 4 minggu
perbulan= 12, artinya 12 hari dalam setiap bulan saya dating ke sekolah untuk
mengajar, jika honor transportnya 1 hari = Rp.20.000, berarti 12 x Rp.20.000= Rp.240.000,
ini adalah honor transport setiap bulannya. Jika dijumlah dengan honor jam
mengajar ialah, Rp.352,000+Rp.240.000= Rp.592.000, ini adalah gaji guru
honor perbulannya. Memang pembayaran gaji guru di sekolah swasta berbeda-beda
namun tidak jauh berbeda dari system tersebut.
Memang
mengajar di sekolah swasta banyak uang sampingannya diluar honor tetap per
bulannya, misalnya jika ada kegiatan-kegiatan diluar kegiatan belajar di
sekolah, yang melibatkan guru, kita mendapatkan uang transport walaupun tidak
besar. Kemudian jika pekan ujian kita mendapatkan uang mengawas, membuat soal,
dan mengoreksi sesuai jumlah mata pelajaran dan kelas yang kita ajar, dll.
Namun itu sifatnya tidak pasti dan tidak rutin selalu ada. Oleh karenanya saya
menjadi guru pendapatan per bulannya tidak menentu, dan pintar-pintar saya
bagaimana mensiasati pengelolaan pendapatan per bulannya agar bisa terlihat
besar oleh orangtua.
Cita-cita
saya masih sama seperti dahulu, ingin meringankan beban orangtua saya dari segi
ekonomi, jadi setiap bulannya saya memberi gaji saya sebagian untuk orangtua
saya, karena mau bagaimanapun saya sudah bekerja walau pendapatan tak menentu.
Sekali waktu orangtua saya bertanya kepada saya tentang berapa besar gaji saya,
saya gagap menjawabnya. Jika saya jujur, saya takut mengecewakan orangtua saya
dan membuatnya sedih, jika dia sedih karena kasihan kepada diriku, sayalah
orang yang paling sedih merasakan apa yang ibu saya rasakan. Akhirnya saya
memutuskan untuk berbohong. “Nak, berapa gaji kamu jadi guru? Mama mau tau…”
kemudian saya menjawab sambil mengulur waktu untuk berfikir “ya… kalo di
jumlahin ya UMR ma, 3,2 juta. Alhamdulilah..” kemudian ibuku dengan wajah
senangnya, “alhamdulilah.. kalau begitu bantuin mama bangun rumah yang di jawa
ya…” kemudian dengan senyum yang saya paksakan saya jawab “iya ma,”. Setiap
awal bulan ketika mendapat gaji, saya selalu menyimpannya slip dan amplop
gajiku dari gaji yang saya dapat pertama kali sampai saat ini, dan
menyembunyikan ditempat yang tidak diketahui ibuku, sebab disitu tertera
nominal gajiku, saya takut ibuku mengetahui kebohonganku dan menjadi sedih. Karena
ketika dia bersedih karena memikirkan diriku, saya lah orang yang paling
terluka melihat beliau beredih.
Rumah
yang keluargaku tinggali ini bukanlah milik pribadi, tetapi milik orangtua
almarhum bapakku. Saya tidak tahu bagaimana dahulu rumah ini kita tinggali,
entah diwariskan atau untuk sementara, ibuku pun tak tahu. Oleh karenanya ibuku
membangun rumah di jawa untuk berjaga-jaga jikalau ada sesuatu hal yang membuat
kita harus pergi dari rumah ini. Semoga harapan ibu saya dapat terwujud, dan
saya bisa membantunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar