BAB
II
INSPIRATOR
Dari
bergerilya mencari pekerjaan di perusahaan, kini saya juga bergerilya
menaruh-naruh lamaran di sekolah-sekolah. Hanya bermodal nekat dan amplop
lamaran saya mendatangi sekolah-sekolah, entah ada posisi lowongan atau tidak,
setidaknya saya telah mencoba. Dan akhirnya kini saya mengajar di 4 sekolah.
Mungkin banyak dari kalian yang tidak percaya, kok bisa? Bagaimana mengatur
waktunya? Pertanyaan itu juga terlontar dari teman-teman guru saya. Sebelum
saya jawab, saya ingin menceritakan mengapa saya mau mengajar di 4 sekolah
sekaligus, yang tadinya saya enggan untuk terjun kedunia pendidikan.
Memang
yang namanya belajar itu adalah kata kerja yang tiada hentinya. Teruslah
belajar sampai akhir menutup hayat, prinsip itulah yang berusaha saya pegang.
Walaupun saya sudah lulus kuliah bukan berarti belajar juga telah selesai, saya
berharap bisa terus belajar guna meningkatkan kualitas diri saya. Belajar bukan
berarti di dalam kelas, dari buku, ataupun dari tugas-tugas kuliah saja,
belajar juga bisa dapat didapatkan dari diskusi dengan seseorang, melihat
kehidupan dengan berbagai perspektif sehingga dapat menemukan makna kehidupan
yang kita tafsirkan sendiri.
Menjadi
guru membuatku banyak belajar, belajar dari pengalaman, pemahaman dalam
perenungan kehidupan, setidaknya dapat membuat sedikit lebih bijaksana. Saya akui
memang kemampuanku masih jauh dari kata cukup untuk menjadi pribadi yang baik,
dan dengan menjadi guru saya sedikit banyak dapat mengupgrade softskill dan
hardskill saya. Ketika saya menjadi guru, saya banyak bertemu teman-teman guru
yang menginspirasi saya. Sayapun tak malu untuk belajar dari beliau-beliau yang
sudah senior, mengambil yang baik-baiknya. Ketika saya mengajar di SMP 17
agustus yakni sekolah pertama saya dalam mengawali karir di dunia pendidikan,
saya bertemu oleh guru matematika Ali Masrokan, M.Pd, saya biasa memanggilnya
pa ali. Dia adalah salah satu teman guru senior yang menginspirasi saya dalam
mengajar di 4 sekolah. Walaupun sebenarnya dia adalah guru baru di smp tersebut
dibanding saya yang lebih dulu mengajar di SMP 17 agustus ini, jadi pemikiran
saya, sayalah yang lebih senior dari pada dia. Pemikiran sombong dan idelisme
seperti itu akhirnya terkalahkan oleh sifat dan pembawaan pak ali dalam bergaul
terhadap guru-guru dan lingkungan baru, itu yang membuatku salut. Saya sedikit
banyak belajar dari beliau, dan kisahnya menjadi guru membuat saya mau untuk
serius dalam menekuni bidang pendidikan.
Pak
ali begitu sapaannya, beliau pria kelahiran grobogan jawa timur, yang merantau
ke Jakarta bersama ayahnya. Dia dibesarkan oleh seorang ayah penjual batagor
keliling, yang sering mangkal di sekolah-sekolah. Walau hanya pedagang kaki
lima ayahnya bisa menyekolahkan anaknya sampai menempuh pendidikan S2. Bisa
dikatakan pa kali anak yang nakal semasa mudanya, sedikit banyak beliau
menceritakan bagaimana masa lalunya dahulu, cerita pertemanan, persaudaraan,
kehidupan, sampai kepersoalan asmara. Beliau selalu menyarankanku untuk segera
menikah, saya selalu menanggapinya dengan tawa ketika dia menyerukan untuk
menikah, karena usia saya terlalu dini untuk menjalin rumah tangga, kata-kata
bujukannya ia selalu berkata “Di, udeh nikah, nunggu ape lagi lo? Nikah tuh 90%
enak, 10% nye weeenaaakk banget”. Kemudian pak ali menceritakan bagaimana dia
mengawali rumah tangganya, menurut saya dia orang yang nekat. Beliau memutuskan
menikah di usia muda yakni 22 tahun, nekat karena pada saat itu pekerjaannya
hanya seorang guru honorer yang gajinya tidak besar, dan dia masih menempuh
kuliahnya. Namun beliau cerita pesan ayahnya “ngapain lo takut ga bisa nafkahin
istri lo nanti, lo liat nih bapak lo Cuma tukang batagor, bisa nafkahin emak lo
sama anak-anaknya sampe kuliah. Rezeky udah diatur apalagi kalo lo udah menikah
rezeky lo dapet dua buat nafkahin anak istri lo nanti.” Pesan tersebut yang
membuatnya yakin untuk menjalin bahtera rumah tangga.
Setelah
berani untuk menikah dengan niat yang baik, benar saja jalannya dalam dunia
pendidikan sangatlah cemerlang. Dengan menjadi guru honorer mengajar di satu
sekolah dirasa pendapatannya tidak mencukupi, pak ali mengajar di hampir 5
sekolah dalam seminggu. Yang terpenting menurut beliau niat kita untuk mengajar
dan berbagi ilmu harus lurus, karena disitu letak keberkahannya, ilmu yang
bermanfaat bagi orang lain, dan jangan sekali-sekali ngedumel tentang
pendapatan lo “ah… Cuma segini gaji gue” jangan, selalu bersyukur
“Alhamdulilah..” orang yang bersyukur akan ditambah rezekynya. Dengan niat yang
lurus pak ali dipermudah jalannya dalam karir dan sudah diangkat menjadi guru
PNS. Kebetulan istrinya pak ali adalah seorang guru juga dan sudah diangkat PNS
sebelum pak ali diangkat. Sungguh cerita yang meninspirasi menurut saya, semua
didasari dari rasa ikhlas dan tulus, dan selalu bersyukur akan nikmat-Nya.
Ikhlas
merupakan persoalan yang rumit menurut saya, dapat kita ucapkan dimulut namun
sulit diresapi di dalam hati. Terkadang saya bisa meneguhkan hati saya untuk
menjalani pekerjaan guru ini dengan ikhlas, namun terkadang juga keyakinanku
runtuh ketika melihat teman-temanku sudah bekerja dengan gaji yang cukup besar
dibanding saya. Hal tersebut yang membuat saya sedih dan iri mungkin. Oleh
karenanya saya juga mensiasati penghasilan saya dengan mengajar di 4 sekolah.
Jadi terjawab mengapa saya mengajar di 4 sekolah sekaligus, pertama saya
terinspirasi dari pak Ali, kedua saya berusaha mensiasati pendapatan saya
sebulan dari mengajar di 4 skolah, dan ketiga karena saya berfikir jika saya
hanya mengajar di satu atau dua sekolah, masih banyak waktu kosong saya di
setiap harinya, dan pertimbangan-pertimbangan tersebutlah yang membuat saya
mengajar di 4 sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar