Stratifikasi
Sosial dalam Kelas
Sekolah
Dasar, Sekolah menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga perguruan tingga
merupakan sarana pendidikan formal di Indonesia. Tentunya dalam pendidikan ada
jenjang tingkatan pendidikan, karena inilah yang mengukur dan menilai seseorang
dalam tingkatan pendidikan yang sedang ia tempuh dan yang telah ia tempuh.
Untuk sampai ke tingkatan atau kelas berikutnya seorang siswa harus mampu lulus
pada tingkatan sebelumnya, sehingga dalam tahapan pembelajaran akan terus
berkesinambungan dan terus meningkat.
Kemudian
kelas merupakan pemetaan dalam pembelajaran, dari sekian banyaknya siswa
ditempatkan kedalam beberapa kelas, tentunya sesuai dengan jenjang yang sedang
ia tempuh. Sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien.
Keanekaragaman siswa/i di dalam kelas menjadi salah satu faktor yang penting
dalam pengaruh berjalannya proses pembelajran, keanekaragaman disini meliputi,
sikap, kepribadian, latarbelakang keluarga, gaya belajar, dan lain sebagainya.
Semua faktor tersebut akan mempengaruhi secara langsung terhadap bagaimana guru
dalam menyesuaikan gaya penyampaian materi pembelajaran terhadap siswa/i,
sehingga semua siswa/i dapat menangkap materi pelajaran yang disampaikan oleh
guru dengan baik. Lalu faktor keanekaragaman tersebut juga mempengaruhi
langsung terhadap bagaimana pengelompokan teman di dalam kelas.
Kita
sadari atau tanpa kita sadari, selalu ada pengelompokan teman dalam kelas. Hal
seperti ini jika terjadi pada tahap sekolah masih dalam hal yang wajar, namun
jika hal seperti ini masih terjadi pada tahapan perguruan tinggi menurut saya
seperti hal yang ganjil, karena di perguruan tinggi tentunya kita sudah sampai
pada pendewasaan, dan lagi kitapun juga bisa dibilang kaum terpelajar, jadi
hal-hal seperti itu ada baiknya tidak terjadi lagi, walau pada hakikatnya
selalalu ada pembentukan kelas di dalam kelas, namun seharusnya hal itu sudah
bisa diminimalisir. Hal itu yang saya alami dan saya perhatikan.
Ketika
berada di dalam kelas pasti selalu ada saja pengelompokan kelas yang
berdasarkan golongan, perbedaan ideology, kecerdasan, latarbelakang sosial,
latarbelakang keluarga, gaya hidup, kekuasaan atau pengaruh seseorang dalam
kelas, dan bahkan berdasarkan kekayaan. Jika pandangan-pandangan seperti itu
yang melandaskan seseorang dalam membentuk sebuah kelompok, maka akan terjadi
pengkotak-kotakan kelas di dalam kelas, yang nantinya ada kelompok-kelompok
atau geng yang bisa memiliki julukan atau simbol yang mencirikan sebuah
kelompok tersebut, dan bahkan julukan-julukan tersebut bisa berbeda sesuai
dengan pandangan kelompok lain. Sebagai contoh pemetaan yang terjadi di dalam
kelas. Kelompok kutu buku atau geng yang serius dalam belajar biasanya duduk di
bangku deretan depan, kemudian kelompok aneh atau bisa disebut geng cupu yang
biasanya duduk di barisan kedua dari depan. Kemudian kelompok yang berdasarkan
materi, dan gaya hidupnya, yang bisa dijuluki geng modis atau keren, yang
biasanya mereka berada di tengah kelas, namun mereka suka berpindah-pindah sesuai
tempat duduk yang memadai untuk kelompok mereka. Kemudian kelompok dari
kaum-kaum yang merasa berkuasa dan memiliki punya pengaruh penting di dalam
kelas, yang biasanya berada di deretan paling belakang kelas. Dan mungkin masih
banyak pengelompokan-pengelompokan lainnya, kemudian antara satu kelompok
dengan kelompok lain bisa terjadi persaingan yang sengat panas, bisa dalam hal
apapun, bahkan mereka menganggap kelompok lain merukan pihak oporsisi yang
dapat mengancam kelompok mereka. Dan yang pasti hal ini selalu terjadi dan
terdapat di setiap kelas, karena kecenderungan seseorang dalam membentuk sebuah
kelompok kecil ketika berada di dalam sebuah kelompok yang lebih besar tak bisa
dihindarkan, ini menandakan bahwa manusia selalu ingin berada pada zona
amannya, dan tak mau terganggu oleh gangguan dari luar yang berbeda. Dan
kemungkinan hal seperti ini dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelas karena
adanya pengelompokan-pengelompokan seperti ini.
Dalam
teori sosiologi hal ini bisa disebut stratifikasi sosial, dan ini terjadi pada
lapisan kelompok kelas. Pitrim A. Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Dalam hal ini pengelompokan
yang terjadi di dalam kelas tentunya dengan membedakan posisi seseorang atau
suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda secara vertikal.[1]
Lalu stratifikasi sosial dalam kelas, biasanya orang yang telah ada dalam
sebuah kelompok, itu tidak selalu tetap, kadang ada situasi atau masalah yang
menjadikan salah satu orang dalam sebuah kelompok berpindah ke kelompok lain.
Entah karena perubahan pendapat atau pemikiran, perubahan yang dialalmi oleh
individu, sehingga berdampak pada komposisi kelompok tersebut. Dan bahkan karena
perpindahan salah satu orang dalam kelompok tersebut dapat berdampak bagi
kelompok-kelompok lain, bisa terjadi konflik yang mengakibatkan perpecahan.
Namun kelompok yang telah terbentuk, juga bisa bersifat permanen, ini terjadi
karena orang-orang yang telah berada di dalam sebuah kelompok sudah merasa
nyaman, dan terikat solidaritas yang tinggi antara individu-individu dalam
sebuah kelompok.
Dari
perpindahan-perpindahan komposisi pada kelompok ini mencirikan bagaimana
sifat-sifat sistem lapisan masyarakat yang bersifat tertutp (closed social stratification) dan
terbuka (open social stratification).
Pada system lapisan tertutup ini tidak memungkinkan seseorang dari satu lapisan
ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya itu ke atas atau ke bawah. Kemudian
system lapisan terbuka ini setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk
berusah dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang
tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya.[2]
Namun
adanya pengelompokan sosial di dalam kelas, yang mengkotak-kotakan kelas
menjadi beberapa bagian, ini merupakan sebuah gejala yang lazim ketika berada
di dalam kelas, apapun itu saya berusaha untuk mengelak akan adanya
pengelompokan di dalam kelas yang membatasi ruang gerak saya dan semua orang
yang ada di dalam kelas, seharusnya kita mampu berbaur dengan siapa saja tanpa
memandang apapun, karena di dalam kelas kita sudah disatukan dan harus mampu
menjadi solid, bukan menjadikan kita terpecah kebeberapa bagian. Namun tidak
perlu ada yang disalahkan atau saling menyalahkan dalam hal ini, karena ini
hanya perbedaan sudut pandang seseorang dalam melihat fenomena sosial ini saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar