Jumat, 21 Februari 2014

Stratifikasi Sosial dalam Kelas


Stratifikasi Sosial dalam Kelas

            Sekolah Dasar, Sekolah menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga perguruan tingga merupakan sarana pendidikan formal di Indonesia. Tentunya dalam pendidikan ada jenjang tingkatan pendidikan, karena inilah yang mengukur dan menilai seseorang dalam tingkatan pendidikan yang sedang ia tempuh dan yang telah ia tempuh. Untuk sampai ke tingkatan atau kelas berikutnya seorang siswa harus mampu lulus pada tingkatan sebelumnya, sehingga dalam tahapan pembelajaran akan terus berkesinambungan dan terus meningkat.
            Kemudian kelas merupakan pemetaan dalam pembelajaran, dari sekian banyaknya siswa ditempatkan kedalam beberapa kelas, tentunya sesuai dengan jenjang yang sedang ia tempuh. Sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Keanekaragaman siswa/i di dalam kelas menjadi salah satu faktor yang penting dalam pengaruh berjalannya proses pembelajran, keanekaragaman disini meliputi, sikap, kepribadian, latarbelakang keluarga, gaya belajar, dan lain sebagainya. Semua faktor tersebut akan mempengaruhi secara langsung terhadap bagaimana guru dalam menyesuaikan gaya penyampaian materi pembelajaran terhadap siswa/i, sehingga semua siswa/i dapat menangkap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Lalu faktor keanekaragaman tersebut juga mempengaruhi langsung terhadap bagaimana pengelompokan teman di dalam kelas.
            Kita sadari atau tanpa kita sadari, selalu ada pengelompokan teman dalam kelas. Hal seperti ini jika terjadi pada tahap sekolah masih dalam hal yang wajar, namun jika hal seperti ini masih terjadi pada tahapan perguruan tinggi menurut saya seperti hal yang ganjil, karena di perguruan tinggi tentunya kita sudah sampai pada pendewasaan, dan lagi kitapun juga bisa dibilang kaum terpelajar, jadi hal-hal seperti itu ada baiknya tidak terjadi lagi, walau pada hakikatnya selalalu ada pembentukan kelas di dalam kelas, namun seharusnya hal itu sudah bisa diminimalisir. Hal itu yang saya alami dan saya perhatikan.
            Ketika berada di dalam kelas pasti selalu ada saja pengelompokan kelas yang berdasarkan golongan, perbedaan ideology, kecerdasan, latarbelakang sosial, latarbelakang keluarga, gaya hidup, kekuasaan atau pengaruh seseorang dalam kelas, dan bahkan berdasarkan kekayaan. Jika pandangan-pandangan seperti itu yang melandaskan seseorang dalam membentuk sebuah kelompok, maka akan terjadi pengkotak-kotakan kelas di dalam kelas, yang nantinya ada kelompok-kelompok atau geng yang bisa memiliki julukan atau simbol yang mencirikan sebuah kelompok tersebut, dan bahkan julukan-julukan tersebut bisa berbeda sesuai dengan pandangan kelompok lain. Sebagai contoh pemetaan yang terjadi di dalam kelas. Kelompok kutu buku atau geng yang serius dalam belajar biasanya duduk di bangku deretan depan, kemudian kelompok aneh atau bisa disebut geng cupu yang biasanya duduk di barisan kedua dari depan. Kemudian kelompok yang berdasarkan materi, dan gaya hidupnya, yang bisa dijuluki geng modis atau keren, yang biasanya mereka berada di tengah kelas, namun mereka suka berpindah-pindah sesuai tempat duduk yang memadai untuk kelompok mereka. Kemudian kelompok dari kaum-kaum yang merasa berkuasa dan memiliki punya pengaruh penting di dalam kelas, yang biasanya berada di deretan paling belakang kelas. Dan mungkin masih banyak pengelompokan-pengelompokan lainnya, kemudian antara satu kelompok dengan kelompok lain bisa terjadi persaingan yang sengat panas, bisa dalam hal apapun, bahkan mereka menganggap kelompok lain merukan pihak oporsisi yang dapat mengancam kelompok mereka. Dan yang pasti hal ini selalu terjadi dan terdapat di setiap kelas, karena kecenderungan seseorang dalam membentuk sebuah kelompok kecil ketika berada di dalam sebuah kelompok yang lebih besar tak bisa dihindarkan, ini menandakan bahwa manusia selalu ingin berada pada zona amannya, dan tak mau terganggu oleh gangguan dari luar yang berbeda. Dan kemungkinan hal seperti ini dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelas karena adanya pengelompokan-pengelompokan seperti ini.
            Dalam teori sosiologi hal ini bisa disebut stratifikasi sosial, dan ini terjadi pada lapisan kelompok kelas. Pitrim A. Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Dalam hal ini pengelompokan yang terjadi di dalam kelas tentunya dengan membedakan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda secara vertikal.[1] Lalu stratifikasi sosial dalam kelas, biasanya orang yang telah ada dalam sebuah kelompok, itu tidak selalu tetap, kadang ada situasi atau masalah yang menjadikan salah satu orang dalam sebuah kelompok berpindah ke kelompok lain. Entah karena perubahan pendapat atau pemikiran, perubahan yang dialalmi oleh individu, sehingga berdampak pada komposisi kelompok tersebut. Dan bahkan karena perpindahan salah satu orang dalam kelompok tersebut dapat berdampak bagi kelompok-kelompok lain, bisa terjadi konflik yang mengakibatkan perpecahan. Namun kelompok yang telah terbentuk, juga bisa bersifat permanen, ini terjadi karena orang-orang yang telah berada di dalam sebuah kelompok sudah merasa nyaman, dan terikat solidaritas yang tinggi antara individu-individu dalam sebuah kelompok.
            Dari perpindahan-perpindahan komposisi pada kelompok ini mencirikan bagaimana sifat-sifat sistem lapisan masyarakat yang bersifat tertutp (closed social stratification) dan terbuka (open social stratification). Pada system lapisan tertutup ini tidak memungkinkan seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya itu ke atas atau ke bawah. Kemudian system lapisan terbuka ini setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusah dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya.[2]
            Namun adanya pengelompokan sosial di dalam kelas, yang mengkotak-kotakan kelas menjadi beberapa bagian, ini merupakan sebuah gejala yang lazim ketika berada di dalam kelas, apapun itu saya berusaha untuk mengelak akan adanya pengelompokan di dalam kelas yang membatasi ruang gerak saya dan semua orang yang ada di dalam kelas, seharusnya kita mampu berbaur dengan siapa saja tanpa memandang apapun, karena di dalam kelas kita sudah disatukan dan harus mampu menjadi solid, bukan menjadikan kita terpecah kebeberapa bagian. Namun tidak perlu ada yang disalahkan atau saling menyalahkan dalam hal ini, karena ini hanya perbedaan sudut pandang seseorang dalam melihat fenomena sosial ini saja.


[1] Sosiologi suatu pengantar, Soerjono Soekanto. (Jakarta : Rajarafindo persada, 2012) hal. 197
[2] Sosiologi suatu pengantar, Soerjono Soekanto. (Jakarta : Rajarafindo persada, 2012) hal. 204

Tidak ada komentar:

Posting Komentar