Sabtu, 15 Oktober 2022

Kasus Mobilitas Sosial

Mobilitas Sosial

 

Kasus1

Bu Damaris Mendila adalah seorang guru di salah satu sekolah di Provinsi Papua. Sebagai guru IPS, Bu Damaris Mendila menjalankan tugas dengan baik. Bukan hanya mengajar saja, Bu Damaris Mendila juga melaksanakan administrasi dengan penuh tanggung jawab. Berbagai kegiatan sekolah yang menjadi tanggung jawabnya dilaksanakan dengan baik. Karena berbagai prestasinya, Bu Damaris Mendila diangkat menjadi kepala sekolah

 

Kasus 2

Seorang siswa SMA, semenjak kelas X sampai XII senantiasa selalu berjuang secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai rapor yang memuaskan. Perjuangannya yang begitu besar pada akhirnya mengantarkan ia untuk menjadi seorang Mahasiswa di universitas ternama Yogyakarta melalui jalur SNMPTN.

 

Kasus 3

Pak Gayus adalah seorang anak pengusaha yang memiliki usaha perkebunan teh di beberapa tempat di Jawa Barat. Pak Gayus mengembangkan usaha dengan membuka usaha baru, yakni bisnis pertambangan. Namun, usaha pertambangan Pak Gayus tidak berhasil berkembang. Bahkan usaha perkebunannya terus merugi hingga akhirnya mengalami. kebangkrutan. Kini Pak Gayus memulai sebagai pengusaha kecil, yakni menjadi agen penjualan teh.

 

Kasus 4

Enin adalah anak pertama dari empat bersaudara yang kini menjadi salah satu mahasiwa di Kota Yogyakarta. Ia adalah seorang anak petani di desa Bantul. Kehidupannya yang serba pas-pasan, tidak menyurutkan niat Enin untuk berkuliah. Pada semester 3, kedua orangtua enin mengalami sebuah kecelakaan yang menjadikan mereka meninggal dunia. Keadaan ini lantas mengharuskan Enin bekerja keras untuk menghidupi ketiga adik-adiknya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Enin memutuskan untuk putus kuliah dan fokus bekerja agar pendidikan adik-adiknya tidak terbengkalai.

Kasus 5

 Bapak Abtu adalah seorang pekerja di salah satu perusahaan pupuk. Dari tahun 2003 hingga sekarang, Bapak Abtu sangat loyal bekerja sebagai pengurus gudang perusahaan. Perusahaan yang telah melihat keloyalan Bapak Abtu, akhirnya memutuskan memberikan sebuah penghargaan, yaitu menjadikan Bapak Abtu seorang Kepala Manager Pergudangan. Kini, setelah diangkatnya Bapak Abtu sebagai Kepala Manager Pergudangan, kesejahteraan keluarga Bapak Abtu semakin membaik.

 

Kasus 6

Pak Zaenuri seorang kepala sekolah di salah satu SMP di Jawa Timur yang sudah 8 tahun menjabat. Dinas pendidikan memindahkan Pak Zaenuri ke sekolah lain dan tetap menjabat sebagai kepala sekolah.


Senin, 14 September 2020

CATATA GURU HONORER #7 MULAI CINTA

 BAB VII

MULAI CINTA

Menurut saya guru bukanlah seseorang pintar, melainkan guru adalah seseorang yang tulus. Mereka tulus memberikan ilmu yang dimilikinya untuk anak didiknya tanpa rasa pamrih, jika semua guru pintar mungkin sulit menemukan guru yang tulus, jika mereka hanya mengandalkan logikanya mungkin mereka hanya memikirkan untuk kepentingan pribadinya saja, dan memikirkan bagaimana untuk menjadi orang kaya. Namun tidak guru lebih mengandalkan hati nurani untuk tulus ikhlas memberikan ilmunya. Jika guru pintar dia tidak akan menjadi guru.

Semenjak saya sekolah dari tingkat TK, saya di urusi oleh yayasan ISCO masalah pendidikan sampai saya lulus S1. Yayasan tersebut berperan banyak dalam pendidikanku hingga saya mendapatkan gelar sarjana. Setelah saya lulus, ada harapan kecil saya juga dibantu dalam mencari pekerjaan, karena yayasan ini merupakan yayasan yang besar, dan pemiliknya orang eropa. Kemudian setelah saya lulus, saya berbincang dengan pendiri yayasan ISCO Mr. Joseph pada waktu kgiatan acara yayasan. Beliau bertanya kepadaku “setelah ini rencana mau bagaimana? Bekerja atau apa” kemudian saya menjawab “saya ingin bekerja mr.” kemudian beliau menanyakan ”lulusanmu S.Pd kan, mau bekerja menjadi guru?” kemudian saya menjawab dengan cepat “kemarin kaka yaysan menawari saya untuk bekerja di salah satu sponsor ISCO, dan saya mau bekerja di perusahaan tersebut, karena menjadi guru awalnya sangat tidak memungkinkan, gaji guru honorer sangat kecil mr.” kemudian beliau sambil menatapku dan terdiam, tak lama dia berbicara sangat panjang kepadaku. Dia bilang “jangan terpacu dalam uang dalam mencari pekerjaan, kamu adalah lulusan pertama yang mendapatan gelar S1 dari ISCO, sarjana pendidikan, 4 tahun kau bergelut untuk mendapatkan gelar tersebut, lalu jangan kau hancurkan karena pemikiranmu yang tidak luas. Kalau setelah ini kamu bekerja dengan gaji yang besar, dengan hanya menjaga took lulusan SMA pun juga bisa, buat apa kau kuliah, tidak semua orang bisa menjadi guru, namun guru bisa berasal dari berbagai kalangan. Jadilah panutan untuk adik-adikmu yang di ISCO, agar mereka bisa bercerita kakanya menjadi guru yang dipandang hebat. Jangan mematok cita-cita harus seperti ini, namun jika yang kau jalankan tidak sesuai bagaimana? Kamu mau berhenti? Tidak, tapi jalani sekarang yang ada di hadapanmu dengan baik, mau bagaimana di depannya itu urusan yang lain.” Masih sangat panjang nasehat yang beliau berikan kepadaku.

Sejak saat itu saya akan berusaha meneguhkan hati saya untuk menjadi seorang pendidik. Dan memang yang dikatakan mr. Joseph kepadaku ada benarnya, banyak sekali pengalaman-pengalaman yang membuatku lebih dewasa selama menjadi guru. Keinginanku kini untuk dapat menjadi inspirasi orang banyak, dan setidaknya dengan keberadaanku dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Dan menurutku saya masih perlu banyak belajar dalam membentu pribadi yang lebih baik lagi, itu mungkin tidak saya dapat di ranah pekerjaan lain, kecuali menjadi guru. Ini adalah lading amal sekaligus lading saya untuk menimba ilmu.

Pemikiranku pada waktu itu ketika masih kuliah, setelah lulus kulia saya akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar dan mengejar ketertinggalanku dari teman-temanku yang sudah bekerja, itu pemikiran yang salah. Sebab menurutku kuliah bukan tempat dimana kalian dibentuk untuk menjadi pekerja dengan gaji yang besar, itu bukan sebuah jaminan. Tetapi dunia kampus menempa kamu bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik lagi, membuka cakrawala pemikiran kamu untuk dapat berfikir secara lebih bijak lagi. Ini yang saya dapatkan dari dunia perkuliahan.

Kini saya terjebak dalam hati seorang guru, mungkin. Keinginan awal saya untuk tidak menjadi guru karena pendapatannya kecil, dan lebih memilih pekerjaan lain untuk mendapatkan gaji yang lebih besar, semakin lama semakin meluntur. Entah mengapa ketika saya mendapatkan pekerjaan lain, hati terasa sulit meninggalkan profesi guru ini. Entah apa yang membuat saya menjadi sangat berat meninggalkan profesi ini, sulit untuk saya ungkapkan. Meskipun kini ada tawaran di perusahaan lain, bukannya saya langsung menerimanya karena itu yang saya inginkan sejak awal, namun justru itu menjadi sebuah pertimbangan yang sangat berat. Apakah saya bisa meninggalkan profesi guru ini? Aapakah saya sanggup meniggalkan murid-muridku yang selalu dating menghampiriku dengan berbagai karakter dan sikap? Semua itu terasa sulit untuk aku tinggalkan. Saya rasa saya telah jatuh terlalu dalam mencintai profesi ini, entah sampai kapan saya tak tahu. Yang saya lakukan kini berusaha menjadi lebih baik lagi dalam menjadi guru, dan berharap pemerintah di Negara ini tahu langkah untuk memberantas kemiskinan ialah dari pendidikan, untuk hal tersebut lebih memperhatikan fasilitas pendidikan, termasuk guru honorer di dalamnya. 

CATATAN GURU HONORER #6 Guru Honorer = Pekerja Serabutan

 

BAB VI

Guru Honorer = Pekerja Serabutan

Keyakinanku untuk dapat mengangkat derajat keluargaku masih sangat kuyakini akan terwujud suatu saat nanti. Namun dari segi ekonomi saya mulai mempertanyakannya, bagaimana bisa terwujud jika pendapatan setiap bulannya tidak terlalu besar. Setiap bulannya saya selalu menabung uangku sebagian, entah tujuannya untuk apa, awalnya untuk modal saya menikah nantinya, walaupun calonnya belum ada. Kemudian ketika kakak perempuanku menikah uang itu terpakai semua untuk membantu kakakku, itu karena nasihat ibu ku, “di.. bantuin uang buat kakaknya nikah, nanti kalau adi nikah gantian,” begitu ucapnya. Kemudian niatku mengumpulkan uang untuk menikah tertunda, dan akhirnya saya mengumpulkan lagi, entah untuk apa nantinya.

Karena kakaku sudah berkeluarga, jadi yang membantu ibuku otomatis berkurang. Saya harus lebih giat lagi mencari uang untuk membantu ibuku. Saya mulai berfikir jika setiap bulannya saya hanya mengandalkan pendapatan dari guru, saya rasa tidak cukup. Bukannya meragukan atas kuasaNya, saya percaya jika rezeky sudah diatus sedemikian rupa. Namun Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha. Jadi saya terus berusaha dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik.

Menjadi guru memang membuat saya banyak waktu kosongnya, saya berfikir bagaimana saya memanfaatkan waktu kosong ini agar dapat bermanfaat. Banyak orang berkata jika saya “worka holic” orang yang terlalu gila akan pekerjaan. Saya justru berharap seperti itu, karena pada dasarnya saya ini adalah seorang yang sangat malas. Mungkin ini yang dinamakan jalan yang ditunjukan oleh Allah kepada hambaNya. Saya yang sedang mencari guru, berharap mendapatkan pekerjaan lain, atau pekerjaan sambilan. Benar saja, saya mendapatkan broadcast lowongan pekerjaan dari mantan pacar saya ketika masa kuliah. Langsung saja saya menghubungi dia, dan menanyakan apakah benar yang dia share. Dan ternyata memang benar, kebetulan dia pun juga ikut melamar pada pekerjaan itu. Lalu kita saling bertemu dan bersama melamar di perusahaan tersebut. Alhamdulilah kita berdua diterima di pekerjaan tersebut.

Dan saya mempunyai firasat baik terhadap pekerjaan yang baru saja saya terima ini, menurut saya inilah jalannya saya menjadi guru. Sebab pekerjaan yang saya dapatkan ini adalah pekerjaan freelance atau paruh waktu, dapat dikerjakan dimana saja dan kapan saja. Jadi pekerjaan ini saya mengolah data dari perusahaan dan pembayarannya sesuai jumlah data yang saya kerjakan secara online. Kini selain saya mengajar di 4 sekolah saya juga bekerja paruh waktu di setiap malam mengerjakan data perusahaan tersebut. Lelah memang, tapi saya rasa ini setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Alhamdulillah setiap bulannya jika di kalkulasikan pendapatan saya mencapai UMR Jakarta dan kadang lebih.

Ternyata tidak hanya saya saja yang memiliki pekerjaan sambilan, rekan kerja guru honorer saya pun banyak sekalai yang memiliki pekerjaan lain, selain guru. Pak Djoko teman guru saya, beliau guru matematika yang mengajar di 2 sekolah, dan ternyata dia juga bekerja sebagai ojek online. Pak Nanda teman guru sejarah saya, selain dia mengajar dia punya usaha took baju di tanah abang. Dan masih banyak sekali teman guru honor saya yang memiliki pekerjaan sambilan, dan rata-rata banyak juga yang bekerja di bimbel selain menjadi guru di sekolah formal.

Dari sini saya berfikir beginilah kehidupan guru honorer, seperti pekerja serabutan apa saja yang menurutnya bisa dikerjakan mereka lakukan selagi halal. Dan memang banyak prinsip yang mereka tanamkan, menjadi guru bukanlah tujuan mereka untuk menjadi orang yang kaya akan materi, tapi mencari sebuah keberkahan. Jika mereka ingin menjadi kaya mereka pasti sudah mencari pekerjaan lain. Bukan karena malu dengan pekerjaan lain yang dipandang rendah, buktinya sampai profesi tukang ojekpun dilakoni oleh mereka, jadi sungguh betapa mulianya pekerjaan guru ini. Karena keberkahan dari mengajar sangat berpengaruh untuk rezeky yang kita dapatkan.

Jangan samakan rezeky dengan uang, karena itu satu hal yang berbeda. Uang adalah sebagian kecil dari rezeky, sebab rezeky sangat banyak sekali kategorinya. Ketika kita diberi kemudahan dalam berbagai urusan, itu termasuk rezeky, ketika kita masih diberikan nikmat sehat wal afiat, sungguh rezeky yang tak terhingga dari Allah, masih sangat banyak sekali kenikmatan yang diberikan kepada hambaNya. Oleh karenanya jangan sekali-sekali kita menghardik rezeky yang kita dapatkan, selalu syukuri apa yang di dapat. Sebab barang siapa yang mensyukuri nikmatuKu, maka akan Ku tambah. Itu yang selama ini saya pelajari dan insyallah selalu ku terapkan.

Mungkin banyak dari kalian yang memakan mentah-mentah pemikiranku ini, dengan alasan itu hanya pemikiran orang yang gagal mencari pekerjaan yang diinginkan dengan gaji besar, tetapi mencoba tetap tegar dengan pemikiran yang sedemikian rupa. Agar terlihat lebih baik dengan menjadi guru dengan pemikiran seperti itu adalah sebuah kesalahan, pemikiran ini saya dapatkan sendiri, buah dari pengalaman saya menjadi guru honorer. Ternyata memang benar mencari uang tidak perlu banyak, yang terpenting berkah. Artinya percuma kita mencari uang yang begitu banyak tetapi tidak berkah, yang pada akhirnya terbuang sia-sia karena sebuah musibah. Segala sesuatunya sudah di atur oleh Allah, termasuk rezeky. Jadi jangan sekali-sekali berkata”ah Cuma segini gaji gue” tapi “alhamdulilah rezeky yang saya dapatkan”. Ingat masih banyak orang yang nasibnya kurang beruntung seperti kita, sekali-kali lihatlah kebawah untuk bersyukur, dan lihat keatas untuk memotivasi diri, bukan malah membuat iri.

CATATAN GURU HONORER #5 Gaji guru Honorer

 

BAB V

Gaji guru Honorer

Rasa puas manusia memang tiada habisnya, sudah mendapatkan apa yang diinginkannya masih terus saja merasa kurang, kepuasannya hanya bersifat sesaat. Ini terdapat pada setiap aspek kehidupan, entah dari segi materi, tahta, maupun wanita. Jika hal ini tidak dapat dikendalikan maka iri dan dengki akan menjadi penyakit hati yang mengakar pada diri manusia. Dan yang lebih fatal adalah krisis iman kepada yang maha kuasa, mulai mempertanyakan sebuah keadilan sebuah takdir yang diberikan Tuhan. Mulai membanding-bandingkan penuh perhitungan sebuah nasib yang dialami oleh diri sendiri dengan teman atau orang lain yang nasibnya di pikir lebih baik daripada dirinya, yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu dari sudut pandang mereka sendiri. Lalu apa obatnya dari penyakit tersebut? Kuncinya ialah bersyukur apa yang kita dapatkan dan berusaha untuk ikhlas dalam menjalani hidup ini. Jika menginginkan kehidupan yang kalian dambakan, ya teruslah berusaha bukan mengeluh, bila gagal jangan putus asa seolah-olah hidup ini telah berakhir, ambil hikmahnya dan teruslah berjalan.

Mengajar di 4 sekolah tentu hal yang sulit dilakukan mesti berlari-lari kesana kemari dalam keadaan bagaimanapun. Pertama saya adalah guru di SMP 17 agustus jam mengajar saya di hari selasa, rabu, jum’at siang sampai sore. Kedua saya mengajar di SMP tirta sari surya dengan jam mengajar saya di hari senin, kamis, dan sabtu siang. Ketiga saya mengajar di SMA Islam As-syafi’iyah 01 jam mengajar saya di jam Senin, Selasa, kamis, dan jum’at pagi. Dan keempat saya mengajar di SMP YASPI cilincing dengan jam mengajar di hari rabu pagi. Jadi jika dibuat jadwal kerja saya dari hari Senin-Sabtu sangatlah padat. Lelah sudah pasti, namun inilah sebuah realita guru honorer di Negara kita. Jika hanya mengandalkan mengajar di 1 sekolah saja mungkin tidak bisa mencukupi kehidupan di Jakarta.

Banyak orang berfikir dengan saya mengajar di 4 sekolah pendapatan saya juga besar, itu hal yang salah. Percaya atau tidak dengan saya mengajar di 4 sekolah belum memenuhi target saya mendapatkan gaji minimal UMR Jakarta yaitu Rp. 3.200.000. kok bisa? Sebenarnya saya malu menyebutkan pendapatan saya menjadi guru, tetapi ini adalah sebuah realita. Gaji pertama saya di SMP 17 agustus kurang lebih sebesar Rp. 600.000/ bulan. Kedua gaji saya di SMP Tirta sari surya sebesar kurang lebih Rp. 700.000/ bulan. Ketiga di SMA AS-Syafi’iyah 01 kurang lebih sebesar Rp. 1.000.000/ bulan. Dan keempat di SMP YASPI kurang lebih Rp.300.000/ bulan. Itu adalah hitungan bulat gaji saya, jadi jika saya total setiap bulannya pendapatan saya sebesar Rp.2.600.000 per bulan, masih sangat jauh dari harpan minimal saya.

Pembayaran guru honor ternyata sangat ironis, dan saya baru mengetahuinya ketika saya menjadi seorang guru honor. Saya jelaskan secara detail bagaimana system perhitungan pembayaran gaji guru honorer setiap bulannya. Kita sebagai guru dibayar sesuai dengan jumlah jam mengajar di sekolah, dengan nominal sesuai dengan ketentuan sekolah, artinya setiap sekolah berbeda-beda jumlah nominal perjamnya. Penyebutan 1 jam pelajaran itu sama dengan 45 menit waktu normal. Baik sebagai contoh perhitungannya, jika saya mengajar mata pelajaran IPS di SMP yang perjamnya dibayar Rp.22.000. kemudian saya mengajar 1 kelasnya memiliki bobot 4 jam pelajaran per minggu, jika saya dalam 1 minggu mengajar 4 kelas artinya jam mengajar saya adalah 4 jam x 4 kelas= 16 jam, berarti saya memiliki 16 jam mengajar per minggunya di sekolah tersebut. SEHARUSNYA menurut pemikiran awal saya jika dibayar setiap bulan artinya 1 bulan ada 4 minggu, berarti 16 jam per minggu dikali 4 minggu sama dengan 64 jam per bulan jika 64 jam x Rp 22.000= Rp.1.408.000, namun TIDAK Rp.1.408.000. Perhitngannya gaji perbulan itu adalah total jam di 1 minggu, jadi pembayaran 1 bulan adalah 16 jam perminggu x Rp.22.000= Rp.352.000, ini adalah honor jam mengajar yang kita terima untuk 1 bulan. Itu gaji untuk jam mengajar.

Kemudian perbulannya guru honorer di gaji dari honor jam mengajar dan honor transport. Honor transport adalah pembayaran setiap hari ketika datang ke sekolah untuk mengajar, missal 16 jam dibagi menjadi 3 hari setiap minggunya, senin selasa rabu, berarti 1 minggu saya datang 3 hari di sekolah tersebut, 3 x 4 minggu perbulan= 12, artinya 12 hari dalam setiap bulan saya dating ke sekolah untuk mengajar, jika honor transportnya 1 hari = Rp.20.000, berarti 12 x Rp.20.000= Rp.240.000, ini adalah honor transport setiap bulannya. Jika dijumlah dengan honor jam mengajar ialah, Rp.352,000+Rp.240.000= Rp.592.000, ini adalah gaji guru honor perbulannya. Memang pembayaran gaji guru di sekolah swasta berbeda-beda namun tidak jauh berbeda dari system tersebut.

Memang mengajar di sekolah swasta banyak uang sampingannya diluar honor tetap per bulannya, misalnya jika ada kegiatan-kegiatan diluar kegiatan belajar di sekolah, yang melibatkan guru, kita mendapatkan uang transport walaupun tidak besar. Kemudian jika pekan ujian kita mendapatkan uang mengawas, membuat soal, dan mengoreksi sesuai jumlah mata pelajaran dan kelas yang kita ajar, dll. Namun itu sifatnya tidak pasti dan tidak rutin selalu ada. Oleh karenanya saya menjadi guru pendapatan per bulannya tidak menentu, dan pintar-pintar saya bagaimana mensiasati pengelolaan pendapatan per bulannya agar bisa terlihat besar oleh orangtua.

Cita-cita saya masih sama seperti dahulu, ingin meringankan beban orangtua saya dari segi ekonomi, jadi setiap bulannya saya memberi gaji saya sebagian untuk orangtua saya, karena mau bagaimanapun saya sudah bekerja walau pendapatan tak menentu. Sekali waktu orangtua saya bertanya kepada saya tentang berapa besar gaji saya, saya gagap menjawabnya. Jika saya jujur, saya takut mengecewakan orangtua saya dan membuatnya sedih, jika dia sedih karena kasihan kepada diriku, sayalah orang yang paling sedih merasakan apa yang ibu saya rasakan. Akhirnya saya memutuskan untuk berbohong. “Nak, berapa gaji kamu jadi guru? Mama mau tau…” kemudian saya menjawab sambil mengulur waktu untuk berfikir “ya… kalo di jumlahin ya UMR ma, 3,2 juta. Alhamdulilah..” kemudian ibuku dengan wajah senangnya, “alhamdulilah.. kalau begitu bantuin mama bangun rumah yang di jawa ya…” kemudian dengan senyum yang saya paksakan saya jawab “iya ma,”. Setiap awal bulan ketika mendapat gaji, saya selalu menyimpannya slip dan amplop gajiku dari gaji yang saya dapat pertama kali sampai saat ini, dan menyembunyikan ditempat yang tidak diketahui ibuku, sebab disitu tertera nominal gajiku, saya takut ibuku mengetahui kebohonganku dan menjadi sedih. Karena ketika dia bersedih karena memikirkan diriku, saya lah orang yang paling terluka melihat beliau beredih.

Rumah yang keluargaku tinggali ini bukanlah milik pribadi, tetapi milik orangtua almarhum bapakku. Saya tidak tahu bagaimana dahulu rumah ini kita tinggali, entah diwariskan atau untuk sementara, ibuku pun tak tahu. Oleh karenanya ibuku membangun rumah di jawa untuk berjaga-jaga jikalau ada sesuatu hal yang membuat kita harus pergi dari rumah ini. Semoga harapan ibu saya dapat terwujud, dan saya bisa membantunya.

Senin, 03 Agustus 2020

CORAK KEHIDUPAN MASYARAKAT PRA-AKSARA

CORAK KEHIDUPAN MASYARAKAT PRA-AKSARA


corak kehidupan manusia purbaZaman pra-aksara adalah masa dimana tidak ditemukannya tulisan. Berdasarkan corak kehidupan masyarakat pra-akasara. Berdasarkan corak kehidupan, masa pra-aksara dibagi menjadi masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan beternak, serta masa perundagian atau masa kemahiran teknik. Corak kehidupan berlangsung dari yang paling sederhana hingga pembuatan alat-alat dari logam yang membutuhkan keahlian khusus. Dari awalnya hidup berpindah-pindah hingga menetap dengan membuat rumah. Dari yang awalnya hidup dengan cara mengumpulkan makanan hingga menghasilkan makanan sendiri.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan

Masa berburu dan mengumpulkan makanan, kadang juga digunakan istilah meramu makanan, adalah corak kehidupan dasar dari masyarakat pra-aksara. Kehidupan sangat sederhana, tergantug pada alam. Manusia purba berpindah-pindah atau nomaden dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan makanan (food gathering). Manusia purba pada tahap ini tinggal berkelompok di daerah sekitar sungai yang subur, dan juga gua-gua karang (abris soche rouche) agar terhindar dari panas dan hujan serta binatang buas. Pada dinding gua terdapat lukisan yang menggunakan cat merah dari daun daunan.

Alat yang digunakan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah berupa kapak perimbas atau kapak genggam yang berupa batu belum dihaluskan dan tidak bertangkai. Kapak perimbas ditemukan sekiat Pacitan dan Ngandong oleh Von Koenigswald. Selain kapak genggam juga ditemukan alat-alat dari tulang yang digunakan sebagai alat serpih yaitu alat penusuk, alat melubangi (gurdi) dan sebagai pisau.  Peninggalan pada masa berburu dan meramu yang lain yaitu Kjokkenmoddinger atau sampah dapur yaitu tumpukan kulit kerang.

Masa Bercocok Tanam dan Beternak

Pada masa bercocok tanam timbul revolusi perdaban yakni perubahan corak hidup dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan sendiri (food producing), perubahan dari yang hidup berpindah-pindah (nomaden) menjadi hidup menetap (sedenter). Manusia sudah tidak lagi sangat tergantung pada alam. Mereka sudah menghasilkan makanan sendiri dan beternak. Pada masa ini manusia sudah bisa membuat rumah. Selain itu corak kehidupan juga sudah lebih maju dengan adanya perdagangan secara barter yaitu tukar menukar barang dengan barang.

Alat yang digunakan berupa kapak persegi, kapak lonjong, dan mata panah. Kapak persegi dan kapak lonjong digunakan untuk alat pertanian. Kedua kapak tersebut sudah dibuat halus pada bagian tertentu.  kapak persegi tersebar di wilayah-wilayah Indonesia bagian barat, sedangkan kapak lonjong tersebar di wilayah-wilayah Indonesia bagian timur. Pada masa ini sudah ada teknik pembuatan gerabah. Selain itu pada masa ini juga diperkirakan masyarakat pra-aksara sudah menggunakan bahasa untuk komunikasi.

Masa perundagian

Perungangian berasal dari kata undagi yang artinya sama dengan tukang atau seseorang yang memiliki keterampilan atau ahli dalam pekerajaan tertentu.  Masing-masing orang bekerja sesuai dengan keterampilan masing-masing, sehingga sudah ada spesialisasi dalam bekerja. Kehidupan manusia purba sudah teratur dan hidup secara permanen. Sistem irigasi untuk pertanian mulai ada pada masa ini.

Peninggalan masa perundagian berupa alat-alat dari logam. Terdapat dua teknik dalam pembuatan alat-alat dari logam yaitu teknik cire perdue dan bivalve.  Alat-alat yang dihasilkan pada zaman perundagian antara lain Nekara, Moko, Kapak Perunggu atau Kapak Corong, Cendrasa, mata panah dan tombak, perhiasan, serta alat-alat pertanian.

Jumat, 24 Juli 2020

CATATAN GURU HONORER #4 TITIK BALIK

BAB IV

TITIK BALIK

Saat saya duduk di bangku 4 SD keluarga kami terkena musibah, saat itu Bapakku jatuh sakit, hampir setahun Bapakku sakit dan telah mencoba berbagai macam pengobatan, namun tidak menemukan titik terang. Hingga timbul desas desus dari orang kalau Bapakku di guna-guna, apapun itu saya dan keluargsaya ingin agar Bapakku di sembuhkan dari penyakitnya.

Setelah hampir setahun Bapakku jatuh sakit, dan pada akhirnya beliau di panggil oleh yang Maha Kuasa. Keadaan saat itu di rumah hanya ada saya dan ibuku, kakak dan adikku sedang sekolah, hanya ada tetangga-tetangga yang membantu. Air matapun jatuh dari seorang ibuku dengan sangat histeris, pikiranku saat itu masih pendek, namun kutahu kalau saya akan kehilangan Bapakku selamanya, dan tangispun takkan bisa tertahankan. Sampai mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, tangis dari seorang ibuku dan keluarga tak terhenti-henti.

Setelah meninggalnya Bapakku, kehidupan keluargsaya pun berubah derastis, ibuku merangkap dua jabatan dalam keluarga ini, yang pertama sebagai ibu rumah tangga, dan kedua sebagai tulang punggung keluarga yang harus menopang kehidupan keluarga ini. Demi menyekolahan ketiga anaknya, beliau rela bekerja banting tulang, siang dan malam, tanpa henti demi kelancaran sekolah kami. Dari menjadi kuli cuci pakaian, pembantu rumah tangga, berjualan, dll.

Seiring waktu berjalan kami tumbuh dewasa, kakakku sudah menyelesaikan sekolah menengah kejuruannya, setelah lulus kaka saya langsung bekerja di salah satu hotel ternama di Jakarta. Dan ikut membantu membiayai kebutuhan keluarga dan adik-adinya yang masih bersekolah dan beban ibuku sedikit terbantu. Dan sayapun masuk SMA. Bukan hanya umur yang bertambah, namun pengalaman, wawasan, dan kedewasaanpun bertambah. Dari sini saya sudah mulai berfikir, posisiku dalam keluarga ini. Dengan meninggalnya Bapakku, otomatis lelaki tertua dalam keluarga ini adalah saya sendiri, dan secara tidak langsung saya harus mampu menggantikan peranan kepala keluarga di sini, dalam artian menjaga keutuhan keluarga ini. Namun saya ingin meringankan beban yang tertancap di pundak ibuku, entah bagaimana caranya saya harus mampu membiayai kebutuhan hidupku sendiri, lalu saya mulai mencari duit demi kebutuhan sehari-hariku, dari menjadi tukang parkir di masjid, mengamen, dan pekerjaan lainnya, dan yang terpenting saya memperoleh rezeky yang halal. Tak terasa sedikit lagi saya akan melepas seragam putih abu-abu, banyak rencana yang sudah saya pikirkan setelah saya lulus SMA. Salah satunya saya ingin langsung bekerja dan membiarkan ibuku untuk beristirahat dan menikmati masa tuanya. Namun takdir berbicara lain.

Saya sejak SD bersekolah dibantu dari yayasan sampai SMA, yayasan sangat membantuku dalam kesuksesan bersekolahku. Pada suatu hari sebelum saya menempuh Ujian Nasional salah satu kaka yayasan yang bernama Rizki mendatangi dan berbicara kepadsaya, menanyakan mau kemana saya setelah lulus SMA.? Dengan tegas saya menjawab, saya ingin langsung bekerja, entah apa pekerjaannya, yang terpenting saya dapat meringankan beban orang tusaya. Namun ka Rizki berbicara lagi kepadsaya, “lalu pekerjaan apa yang akan kau dapatkan denga tamatan SMA.? OB, itupun kalo dapet, kalo tidak. Lebih baik kau meneruskan sekolahmu kejenjang yang lebih tinggi, dengan kuliah hidupmu dimasa depan akan lebih terjamin. Tak usah kau memikirkan biaya, masalah biaya nanti yayasan yang akan mengurus.” Lalu saya terdiam dan berfikir. Dan ka Rizkipun memberi saya waktu untuk berfikir.

Saya langsung membicarakan hal ini kepada ibuku. Memepertimbangkan apa yang terbaik unukku dan keluarga ku. Lalu ibuku pun setuju untuk melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yan lebih tinggi. Namun di dalam hatiku masih ada gejolak untuk menerimanya, namun saya berfikir tidak ada salahnya untuk dicoba.

Lalu saya ikutlah ujian masuk perguruan tinggi negeri, tanpa persiapan apapun, saya mengikuti ujian tersebut. Sambil menunggu hasilnya, saya selalu berdoa kepada Allah untuk memeberikan yang terbaik untukku. Lalu saat-saat pengumuman ujianpun datang, apapun hasilnya, saya tau itulah yang terbaik yang di berikan oleh Allah kepadsaya. Dan hasilnyapun tak disangka saya diterima di Universitas Negeri Jakarta dan saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Entah perasaan apa yang saya rasakan setelah mengetahui hasil tersebut, bangga, senang, sedih, tidak percaya, semua menjadi satu. Entah apa yang direncanakan oleh Allah kepadsaya. Namun sebesar apapun rencana kita, rencana Allah lebih hebat dan besar dari apapun.

Entah apa jadi kedepannya, saya hanya bisa menerima. Mulai saat itu saya mulai sadar, dalam hidup ini jangan kau jadikan impianmu, tujuanmu, atau rencanamu menjadi sebuah acuan, karena itu akan menjadikan sebuah ambisi yang meracunimu. saya tidak tau apa yang akan terjadi di sana, namun yang saya tau terus jalani hidup yang kita hadapi sekarang dengan sepenuh hati, apapun yang kita hadapi saat ini, itu akan mempengaruhi apa yang kita dapatkan dikemudian hari.

Setelah saya diterima di Universitas, otomatis rencana awal saya tidak terealisasikan, entah apa perasaan ibuku dan keluargsaya mendengar saya diterima di Universitas Negeri, namun saya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, saya telah mengalahkan beratus-ratus mungkin beribu-ribu orang untuk masuk ke Universitas ini.

Ketika saya masuk dunia perkuliahan ada rasa bangga pada diri saya, namun tentu saja ada sedikit rasa iri melihat teman-teman SMA saya sudah mulai melangkah kedepan mencari rezeki untuk masa depan, dan saya masih disini berdiam diri. Namun saya tau berdiam diriku adalah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari sekencang-kencangnya kedepan, saya yakin itu. Dan sampai saat ini pertanyaanku sewaktu kecil, tentang apa tujuannya saya dilahirkan di dunia ini belum saya temukan jawabannya. Namun yang saat ini saya tau adalah setiap manusia sudah dituliskan takdirnya dalam kehidupan sewaktu masih didalam Rahim, tinggal bagaimana kita  mampu menjalani hidup ini dengan sepenuh hati, kearah yang lebih baik. Dan mungkin tujuan saya dilahirkan di dunia ini, dalam keluarga ini, menjadi anak kedua dari tiga bersaudara, diberi nama oleh orang tua saya dengan nama Adi Ciputra, saya yakin akan mampu mengubah diriku sendiri ke arah yang lebih baik, dan membawa keluarga ini kekehidupan yang lebih baik, hanya itu yang saya tau saat ini.


CATATAN GURU HONORER #3 SEJARAH KELUARGA

BAB III

SEJARAH KELUARGA

Saya berusaha ikhlas untuk tetap menjalani kenyataan ini, pemikiran-pemikiran yang saya cari demi membela keadaan saya terus saya lakukan untuk memperteguh pendirian saya. Walaupun terkadang bisa saja runtuh oleh beberapa sebab. Ketika saya mendengar cerita-cerita sukses teman-teman seangkatan saya, dan kemudian melihat keadaan saya yang sekarang, rasanya seperti bom atom yang dijatuhkan kehati saya, hancur semuanya. Ketika saya berfikir, “teman saya yang dari background keluarga yang mapan, sepertinya terlihat mudah menjalani hidup ini, nasibnya sangat bagus, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. Sedangkan saya yang bercita-cita merubah nasib ekonomi keluarga saya kearah yang lebih baik, untuk melangkah satu langkah kedepan rasanya sulit sekali.” Pemikiran-pemikiran seperti ini yang membuat saya down. Apakah saya kurang bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan? Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran dan ingin melihat saya berusaha lebih keras lagi, atau mungkin Tuhan marah terhadap tingkah laku saya di dunia ini, saya hanya bisa menerka sesuatu yang belum tentu akan saya ketahui nantinya.

Meyakinkan apa yang kita pilih itulah hal yang tersulit bagi saya, dengan mengajar di 4 sekolah tentu hati saya harus yakin untuk berada dalam dunia pendidikan, agar saya dapat menjalani dengan baik pekerjaan yang ini. Berusaha focus untuk apa yang sedang saya kerjakan, dan berusaha menutup mata dan telingaku terhadap apa yang didapatkan teman-teman saya, agar tidak timbul rasa iri dan dengki menjadi salah satu cara saya untuk memantapkan apa yang saya tekuni.

Sebenarnya tidak begitu sulit mencari pekerjaan selain guru, dengan berbekal ijazah S1 tentu itu mudah, namun yang membuatnya sulit ialah gengsi. Jelas saya sempat diterima di beberapa perusahaan dengan posisi marketing, namun saya tolak sebab marketing merupakan pekerjaan yang beresiko, dan sepertinya saya tidak bisa dipekerjaan ini. Kemudian beberapa menerima saya namun yang ia cari ialah lulusan SMA dengan pekerjaan standart lulusan SMA. Kemuadian jika saya terima, untuk apa saya kuliah 4 tahun jika pekerjaan yang saya dapat berstandart lulusan SMA. Kenapa tidak langsung saja dari dulu lulus SMA saya langsung bekerja, tidak usah kuliah. Memang terkadang saya menyesali mengapa dulu saya memilih untuk kuliah, sedangkan seharusnya saya langsung bekerja, karena saya harus membantu sekolah adikku dan meringankan beban keluagaku. Namun saya malah lebih memili kuliah, dan ketika saya kuliah adik saya malah bekerja, kata orang-orang kok kebalik harusnya kakanya yang kerja, adiknya kuliah dulu.

Mengapa saya tidak ingin kuliah, dan bersikeras untuk bekerja setelah lulus SMA dahulu. Karena perjalanan keluarga saya yang terlalu terjal untuk dapat hidup yang layak. Mungkin beberapa orang hanya mengenalku seperti apa yang mereka lihat dipermukaan, namun mereka tidak mengetahui bagaimana latar belakangku, dan apa yang ada di benakku. Memang masih banyak yang nasibnya jauh lebih parah dari pada saya, saya tidak menepiskannya. Tetapi memang inilah yang terjadi pada kehidupan saya dan inilah sebuah sejarah keluarga yang melekat pada kehidupan saya.

Dahulu sewaktu saya kecil, saya selalu takut akan namanya kematian. Ada seribu pertanyaan di pikiranku apa benar tentang adanya kematian, apakah manusia semua akan mati, dan bisakah kita berlari untuk menghindari kematian tersebut. Sewaktu kecil setiap saya mendengar akan suara petir dan hujan badai yang besar saya selalu menangis. Satu-satunya pikiran yang ada di otak saya waktu itu adalah apakah ini sudah saatnya kiamat (akhir jaman). Asumsi tersebut selalu berada di otakku dan membuat saya ketakutan.

Salah satu faktor yang membuat saya takut akan kematian adalah, saya takut kehilangan anggota keluarg saya, ketakutan tidak bisa bertemu keluarga lagi di kehidupan yang lain menjadi ketakutan yang amat besar. Mungkin waktu kecil saya salah satu anak tercengeng dari saudara-saudara saya yang lain, namun saya salah satu anak yang sangat menyayangi semua anggota keluargsaya.

Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara, mungkin ayah dan Ibuku merupakan orangtua terhebat di dunia ini. Keluarga kami sangat harmonis, namun semua keluarga pasti ada masalah yang datang, setiap ada masalah keluarga kami selalu bisa menyelesaikannya dengan baik. Mungkin masalah yang sudah saya rasakan belum ada apa-apanya dengan apa yang dirasakan kedua orang tusaya.

Bapakku termasuk keturunan dari keluarga yang bisa di bilang kaya. Dan ibuku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun cinta memang tak memandang kasta, kelas, ras, dan lain-lain, dan tidak ada alasan untuk menjelaskan bagaimana cinta itu muncul. Ketika ayah dan ibuku menikah dan membentuk sebuah keluarga, mereka memulai kehidupan baru dari titik nol. Perjuangan hidup mereka untuk membentuk suatu keluarga yang harmonis sangat dramatis menurutku. Mereka selalu menceritakan bagaimana mereka bertemu dan akhirnya menikah, cerita tersebut selalu ku dengar ketika menjelang tidur.

Bapakku merupakan anak pertama dikeluarganya, keluarga Bapakku merupakan perpaduan antara orang jawa dan betawi, mbah ksayang dari jawa dan mbah putri dari betawi. Mereka tinggal di Jakarta. Keluarga Bapakku sangat dipandang dan dihormati oleh masyarakat sekitar, dari segi ekonomi, sosial, sampai agama. Memang mbah ksayang salah satu pemuka agama. Tetapi Bapakku memang dahulu sangat nakal kelsayaannya, nakal dalam sekolah dan pergaulan. Sampai saat Bapakku bertemu dengan Ibuku, pertemuan mereka pertama kali di pasar, saat itu ibuku sedang berada di dalam bajaj, Bapakku yang sedang nongkrong di pasar melihat ibuku dari luar, sontak langsung lompat ke dalam bajaj tersebut hanya untuk berkenalan.

Memang ibuku dari orang jawa tepatnya di purwokerto, sangat kontras dari keluarga Bapakku, ibuku dibesarkan dari keluarga yang miskin. Ditinggal meninggal kedua orangtuanya pada usia 11 tahun, pada saat itu ibuku menjadi salah satu tulang punggung keluarga untuk menafkahi adik-adiknya. Sehingga pada saat umur yang masih belia, ibuku merantau ke Jakarta untuk bekerja menjadi ibu rumah tangga, sempat ibuku pernah bercerita pengalamannya menjadi pekerja rumah tangga yang ditipu oleh majikannya. Majikan saat itu orang cina, ibuku sempat dikurung di gudang selama seharian penuh, tanpa dikasih makan dan minum, akhirnya ibuku nekat melarikan diri melalui fentilasi udara di ruangan tersebut. Ibuku lari dan tak tahu mau kemana. Mendengar ibuku cerita seperti itu, membuatku iba dan semangat untuk membahagiakan ibuku. Terlepas dari masalah tersebut, dengan ibuku merantau ke Jakarta pada saat itulah ayah dan ibuku dipertemukan.

Bapakku sangat menyukai ibuku pada saat pertama kali bertemu, mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Bapakku yang seperti preman pasar pada saat itu memberanikan diri untuk memulai hubungan dengan ibuku. Walaupun hubungan mereka terhalang restu orangtua Bapakku, tepatnya dari mbah putri, dia tidak setuju jika Bapakku menikah dengan ibuku. Tetapi halangan tersebut dapat mereka lalui untuk membangun bahtera rumah tanggga yang diimpikan. Mereka pada akhirnya menikah, dan memulai segalanya dari nol. Itulah hidup selalu ada lika liku kehidupan, tidak selamanya menemui jalan lurus, terkadang kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih untuk melanjutkan perjalanan.

Hingga pada akhir ayah dan ibuku dikaruniai 3 anak kakakku perempuan dan 2 anak lelaki (saya dan adikku).Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sangat sulit. Masih sangat teringat di pikiranku kejadian dimana keadaan keluarga kami sangat krisis, sampai-sampai untuk makan kami hanya bisa menikmati perpaduan nasi dengan garam saja. Walaupun saat itu masih kecil, namun kejadian itu sangat membekas di benak pikiranku hingga kini.

Sempat saya menyesali mengapa saya dilahirkan di keluarga seperti ini, dan saya sempat berfikir mengapa hidup ini tidak bisa memilih, andai saya bisa memilih, saya akan memilih untuk dilahirkan di keluarga yang kaya raya. Tetapi semua itu hanya sebuah khayalan belaka. Keluarga saya memang seperti ini adanya, namun saya sangat mencintai seluruh anggota keluarga saya.