BAB
III
SEJARAH
KELUARGA
Saya
berusaha ikhlas untuk tetap menjalani kenyataan ini, pemikiran-pemikiran yang
saya cari demi membela keadaan saya terus saya lakukan untuk memperteguh
pendirian saya. Walaupun terkadang bisa saja runtuh oleh beberapa sebab. Ketika
saya mendengar cerita-cerita sukses teman-teman seangkatan saya, dan kemudian
melihat keadaan saya yang sekarang, rasanya seperti bom atom yang dijatuhkan
kehati saya, hancur semuanya. Ketika saya berfikir, “teman saya yang dari
background keluarga yang mapan, sepertinya terlihat mudah menjalani hidup ini,
nasibnya sangat bagus, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. Sedangkan
saya yang bercita-cita merubah nasib ekonomi keluarga saya kearah yang lebih
baik, untuk melangkah satu langkah kedepan rasanya sulit sekali.”
Pemikiran-pemikiran seperti ini yang membuat saya down. Apakah saya kurang
bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan? Mungkin Tuhan sedang menguji
kesabaran dan ingin melihat saya berusaha lebih keras lagi, atau mungkin Tuhan
marah terhadap tingkah laku saya di dunia ini, saya hanya bisa menerka sesuatu
yang belum tentu akan saya ketahui nantinya.
Meyakinkan
apa yang kita pilih itulah hal yang tersulit bagi saya, dengan mengajar di 4
sekolah tentu hati saya harus yakin untuk berada dalam dunia pendidikan, agar
saya dapat menjalani dengan baik pekerjaan yang ini. Berusaha focus untuk apa
yang sedang saya kerjakan, dan berusaha menutup mata dan telingaku terhadap apa
yang didapatkan teman-teman saya, agar tidak timbul rasa iri dan dengki menjadi
salah satu cara saya untuk memantapkan apa yang saya tekuni.
Sebenarnya
tidak begitu sulit mencari pekerjaan selain guru, dengan berbekal ijazah S1
tentu itu mudah, namun yang membuatnya sulit ialah gengsi. Jelas saya sempat
diterima di beberapa perusahaan dengan posisi marketing, namun saya tolak sebab
marketing merupakan pekerjaan yang beresiko, dan sepertinya saya tidak bisa
dipekerjaan ini. Kemudian beberapa menerima saya namun yang ia cari ialah
lulusan SMA dengan pekerjaan standart lulusan SMA. Kemuadian jika saya terima,
untuk apa saya kuliah 4 tahun jika pekerjaan yang saya dapat berstandart
lulusan SMA. Kenapa tidak langsung saja dari dulu lulus SMA saya langsung
bekerja, tidak usah kuliah. Memang terkadang saya menyesali mengapa dulu saya
memilih untuk kuliah, sedangkan seharusnya saya langsung bekerja, karena saya
harus membantu sekolah adikku dan meringankan beban keluagaku. Namun saya malah
lebih memili kuliah, dan ketika saya kuliah adik saya malah bekerja, kata
orang-orang kok kebalik harusnya kakanya yang kerja, adiknya kuliah dulu.
Mengapa
saya tidak ingin kuliah, dan bersikeras untuk bekerja setelah lulus SMA dahulu.
Karena perjalanan keluarga saya yang terlalu terjal untuk dapat hidup yang
layak. Mungkin beberapa orang hanya mengenalku seperti apa yang mereka lihat
dipermukaan, namun mereka tidak mengetahui bagaimana latar belakangku, dan apa
yang ada di benakku. Memang masih banyak yang nasibnya jauh lebih parah dari
pada saya, saya tidak menepiskannya. Tetapi memang inilah yang terjadi pada
kehidupan saya dan inilah sebuah sejarah keluarga yang melekat pada kehidupan
saya.
Dahulu
sewaktu saya kecil, saya selalu takut akan namanya kematian. Ada seribu
pertanyaan di pikiranku apa benar tentang adanya kematian, apakah manusia semua
akan mati, dan bisakah kita berlari untuk menghindari kematian tersebut.
Sewaktu kecil setiap saya mendengar akan suara petir dan hujan badai yang besar
saya selalu menangis. Satu-satunya pikiran yang ada di otak saya waktu itu
adalah apakah ini sudah saatnya kiamat (akhir jaman). Asumsi tersebut selalu
berada di otakku dan membuat saya ketakutan.
Salah
satu faktor yang membuat saya takut akan kematian adalah, saya takut kehilangan
anggota keluarg saya, ketakutan tidak bisa bertemu keluarga lagi di kehidupan
yang lain menjadi ketakutan yang amat besar. Mungkin waktu kecil saya salah
satu anak tercengeng dari saudara-saudara saya yang lain, namun saya salah satu
anak yang sangat menyayangi semua anggota keluargsaya.
Saya
anak ke 2 dari 3 bersaudara, mungkin ayah dan Ibuku merupakan orangtua terhebat
di dunia ini. Keluarga kami sangat harmonis, namun semua keluarga pasti ada
masalah yang datang, setiap ada masalah keluarga kami selalu bisa
menyelesaikannya dengan baik. Mungkin masalah yang sudah saya rasakan belum ada
apa-apanya dengan apa yang dirasakan kedua orang tusaya.
Bapakku
termasuk keturunan dari keluarga yang bisa di bilang kaya. Dan ibuku berasal
dari keluarga yang kurang mampu. Namun cinta memang tak memandang kasta, kelas,
ras, dan lain-lain, dan tidak ada alasan untuk menjelaskan bagaimana cinta itu
muncul. Ketika ayah dan ibuku menikah dan membentuk sebuah keluarga, mereka
memulai kehidupan baru dari titik nol. Perjuangan hidup mereka untuk membentuk
suatu keluarga yang harmonis sangat dramatis menurutku. Mereka selalu
menceritakan bagaimana mereka bertemu dan akhirnya menikah, cerita tersebut
selalu ku dengar ketika menjelang tidur.
Bapakku
merupakan anak pertama dikeluarganya, keluarga Bapakku merupakan perpaduan
antara orang jawa dan betawi, mbah ksayang dari jawa dan mbah putri dari
betawi. Mereka tinggal di Jakarta. Keluarga Bapakku sangat dipandang dan
dihormati oleh masyarakat sekitar, dari segi ekonomi, sosial, sampai agama.
Memang mbah ksayang salah satu pemuka agama. Tetapi Bapakku memang dahulu
sangat nakal kelsayaannya, nakal dalam sekolah dan pergaulan. Sampai saat
Bapakku bertemu dengan Ibuku, pertemuan mereka pertama kali di pasar, saat itu
ibuku sedang berada di dalam bajaj, Bapakku yang sedang nongkrong di pasar
melihat ibuku dari luar, sontak langsung lompat ke dalam bajaj tersebut hanya
untuk berkenalan.
Memang
ibuku dari orang jawa tepatnya di purwokerto, sangat kontras dari keluarga
Bapakku, ibuku dibesarkan dari keluarga yang miskin. Ditinggal meninggal kedua
orangtuanya pada usia 11 tahun, pada saat itu ibuku menjadi salah satu tulang
punggung keluarga untuk menafkahi adik-adiknya. Sehingga pada saat umur yang
masih belia, ibuku merantau ke Jakarta untuk bekerja menjadi ibu rumah tangga,
sempat ibuku pernah bercerita pengalamannya menjadi pekerja rumah tangga yang
ditipu oleh majikannya. Majikan saat itu orang cina, ibuku sempat dikurung di
gudang selama seharian penuh, tanpa dikasih makan dan minum, akhirnya ibuku
nekat melarikan diri melalui fentilasi udara di ruangan tersebut. Ibuku lari
dan tak tahu mau kemana. Mendengar ibuku cerita seperti itu, membuatku iba dan
semangat untuk membahagiakan ibuku. Terlepas dari masalah tersebut, dengan
ibuku merantau ke Jakarta pada saat itulah ayah dan ibuku dipertemukan.
Bapakku
sangat menyukai ibuku pada saat pertama kali bertemu, mungkin ini yang disebut
cinta pada pandangan pertama. Bapakku yang seperti preman pasar pada saat itu
memberanikan diri untuk memulai hubungan dengan ibuku. Walaupun hubungan mereka
terhalang restu orangtua Bapakku, tepatnya dari mbah putri, dia tidak setuju
jika Bapakku menikah dengan ibuku. Tetapi halangan tersebut dapat mereka lalui
untuk membangun bahtera rumah tanggga yang diimpikan. Mereka pada akhirnya menikah,
dan memulai segalanya dari nol. Itulah hidup selalu ada lika liku kehidupan,
tidak selamanya menemui jalan lurus, terkadang kita dihadapkan pada dua pilihan
atau lebih untuk melanjutkan perjalanan.
Hingga
pada akhir ayah dan ibuku dikaruniai 3 anak kakakku perempuan dan 2 anak lelaki
(saya dan adikku).Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sangat sulit.
Masih sangat teringat di pikiranku kejadian dimana keadaan keluarga kami sangat
krisis, sampai-sampai untuk makan kami hanya bisa menikmati perpaduan nasi
dengan garam saja. Walaupun saat itu masih kecil, namun kejadian itu sangat
membekas di benak pikiranku hingga kini.
Sempat
saya menyesali mengapa saya dilahirkan di keluarga seperti ini, dan saya sempat
berfikir mengapa hidup ini tidak bisa memilih, andai saya bisa memilih, saya
akan memilih untuk dilahirkan di keluarga yang kaya raya. Tetapi semua itu
hanya sebuah khayalan belaka. Keluarga saya memang seperti ini adanya, namun
saya sangat mencintai seluruh anggota keluarga saya.