Tak Ingin Kembali
Mengapa kau
datang kembali setelah sekian lama kuberlari jauh darimu, sungguh ini sangat
menyiksaku. Aku sempat berhasil memendam dan menghilangkan rasa tersebut jauh
kedalam, setelah kau hancurkan persaanku berkeping-keping bahkan menjadi
serpihan yang tak dapat kugenggam. Sungguh aku tak menginginkannya lagi, Tuhan
tolong bantu aku untuk menghilangkan rasa ini lagi. Aku tak mau mengulang masa
lalu yang bisa jadi akan menimbulkan luka baru. kau tahu? bahkan luka kemarin
yang secara tidak sengaja kau goreskan, belum seutuhnya sembuh. Kini kau datang
kembali yang akupun tak tahu apa yang kau bawa? kebahagiaan kah? Harapankah?
Atau mungkin rasa sakit yang lebih? Aku tak tahu.
Hei perempuan, aku tidak sama sekali menyalahkanmu,
sebab kau pun tak tahu dan tak menginginkannya, mungkin. Kini kubenci pada
senyummu yang bila kupandang terasa teduh, ku benci suara tawamu yang terdengar
begitu indah, kubenci setiap jengkal pada tubuhmu yang membuatku tak bisa
melupakanmu. bahkan aku ingin sekali memukul wajahku sendiri saat ini. Mengapa
aku tak berdaya mengalahkan perasaaan ini. Siapa yang harusnya kusalahkan? Aku
tak pernah berharap rasa indah tersebut datang kembali, aku hanya takut rasa
sakit itu datang kembali dengan begitu kejam.
Jujur saja aku punya beribu pertanyaan yang sangat
ingin sekali kudengar jawabannya dari dirimu, namun ketika kau dating kembali,
entah kenapa senymmu selalu menghalangi niatku untuk bertanya. Dan lagi
akhirnya pertanyaan tersebut hanya dapat terlontar dari imajinasi menjelang
tidurku. Apa kau masih simpan lukisan yang kubuat untuk hadiah ulang tahunmu?
Apa kau ingat ketika hujan turun membasahi kau dan aku diatas kendaraan
bermotor ketika kita hendak pulang? Di atas motor di depan stasiun malam itu ku
utarakan perasaanku padamu, Mengapa tidak langsung saja kau katakan “tidak”
jika kau tidak memiliki persaan yang sama terhadapku? Sehingga aku tidak
memiliki harapan berlebih terhadapmu. Mengapa kau tidak jelaskan saja alasan
sejujurnya kepadaku? Walau terasa pahit itu lebih baik dari pada kutertipu pada
rasa ini. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Aku
berharap bisa mendengar jawabannya.
Andai kau tahu apa yang terjadi pada diriku ketika
kutahu kau telah bersamanya. Mungkin kau berfikir aku terlalu berlebihan,
karena memang kau tidak merasakan apa yang kurasakan. Mengetahui kau telah
bersamanya saat di dalam kelas, dan akhirnya setiap teman kelas mengetahuinya,
kemudian beberapa teman dekat memandang kearahku sambil memberikan senyuman
iba, beberapa yang menanggapi dengan candaan kepadaku. Namun kau tahu apa yang
kurasakan, tak dapat terkendalikan. Seolah ingin berontak namun tak bisa. Yang
aku rasa ingin berhenti kuliah agar tidak bertemu denganmu lagi. Ketika
kupulang kerumah hanya sebuah lirik yang kutulis untuk melampiaskan semuanya.
Walau kini kau telah tidak bersamanya, aku berusaha
untuk tidak terlalu berharap lagi kepadamu. Walau ingin sekali kutanyakan
kembali pertanyaanku pada saat itu, “bagaimana perasaanmu kepadaku?” namun saya
pikir saya sudah mengetahui jawabannya, jawaban yang sama yang kau berikan. Biarkan
aku selalu memiliki rasa cinta kepadamu, walau kau tak memilikinya. Setidaknya agar
ada kehidupan indah di hati kecil ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar