Perjalanan Hidup
Mungkin terlalu dini jika saya menceritakan
akan masalah hidup ini, namun tak ada salahya jika saya mencari akan arti hidup
ini, dan mencari tau tujuan saya dilahiran kedunia. Karena manusia selalu ada
rasa ingin tahu apa yang tidak diketahuinya, atau istilah anak-anak jaman
sekarang “Kepo”.
Dahulu sewaktu saya kecil, saya
selalu takut akan namanya kematian. Ada seribu pertanyaan di pikiran saya apa
benar tentang adanya kematian, apakah manusia semua akan mati, dan bisakah kita
berlari untuk menghindari kematian tersebut. Sewaktu kecil setiap saya
mendengar akan suara petir dan hujan badai yang besar saya selalu menangis.
Satu-satunya pikiran yang ada di otak saya waktu itu adalah apakah ini sudah
saatnya kiamat (akhir jaman). Asumsi tersebut selalu berada di otak saya dan
membuat saya ketakutan.
Salah satu
factor yang membuat saya takut akan kematian adalah, saya takut kehilangan
anggota keluarga saya, ketakutan tidak bisa bertemu keluarga lagi di kehidupan
yang lain menjadi ketakutan yang amat besar. Mungkin waktu kecil saya salah
satu anak tercengeng dari saudara-saudaraku yang lain, namun saya sangat
menyayangi semua anggota keluarga saya.
Saya anak
ke 2 dari 3 bersaudara, mungkin ayah dan Ibuku merupakan orang tua terhebat di
dunia ini. Keluarga kami sangat harmonis, namun semua keluarga pasti ada
masalah yang datang, setiap ada masalah keluarga kami selalu bisa
menyelesaikannya dengan baik. Mungkin masalah yang sudah saya rasakan belum ada
apa-apanya dengan apa yang dirasakan kedua orang tuaku.
Ayahku
termasuk keturunan dari keluarga, yang bisa di bilang kaya. Dan ibuku berasal
dari keluarga yang sederhana. Namun cinta memang tak memandang kasta, kelas,
ras, dll. Ketika ayah dan ibuku menikah dan membentuk sebuah keluarga, mereka
memulai kehidupan baru dari titik nol. Perjuangan hidup mereka untuk membentuk
suatu keluarga yang harmonis sangat dramatis menurut saya.namun itulah hidup
selalu ada lika liku kehidupan, tidak selamanya menemui jalan lurus, terkadang
kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih untuk melanjutkan perjalanan.
Hingga ayah
dan ibuku mempunya 3 anak, keadaan keluarga kami sangat sederhana. Masih sangat
teringat di pikiranku kejadian dimana keadaan keluarga kami sangat krisis,
sampai-sampai untuk makan kami hanya bisa menikmati perpaduan nasi dengan garam
saja.
Sempat aku
menyesali mengapa aku dilahirkan di keluarga seperti ini, dan saya berfikir
mengapa hidup ini tidak bisa memilih, andai saya bisa memilih, saya akan
memilih untuk dilahirkan di keluarga yang kaya raya, namun semua itu hanya
sebuah khayalan belaka.
Saat aku
duduk di bangku 4 SD keluarga kami terkena musibah, saat itu ayah saya jatuh
sakit, hampir setahun ayah saya sakit dan telah mencoba berbagai macam
pengobatan, namun tidak menemukan titik terang. Hingga timbul desas desus dari
orang kalau ayahku di guna-guna, apapun itu aku dan keluargaku ingin agar
ayahku di sembuhkan dari penyakitnya.
Setelah
hampir setahun ayahku jatuh sakit, dan pada akhirnya beliau di panggil oleh
yang Maha Kuasa. Keadaan saat itu, di rumah hanya ada saya dan ibuku, kakak dan
adikku sedang sekolah, hanya ada tetangga-tetangga yang membantu. Airmatapun
jatuh dari seorang ibuku dengan sangat histeris, pikiran saya saat itu masih
pendek, namun saya tahu kalau saya akan kehilangan ayah saya selamanya, dan tangispun
takkan bisa tertahankan. Sampai mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir,
tangis dari seorang ibuku dan keluarga tak terhenti-henti.
Setelah
meninggalnya ayah saya, kehidupan keluarga sayapun berubah derastis, ibu saya
merangkap dua jabatan dalam keluarga ini, yang pertama sebagai ibu rumah
tangga, dan kedua sebagai tulang punggung keluarga yang harus menopang
kehidupan keluarga ini. Demi menyekolahan ketiga anaknya, beliau rela bekerja
banting tulang, siang dan malam, tanpa henti demi kelancaran sekolah kami. Dari
menjadi kuli cuci pakaian, pembantu rumah tangga, berjualan, dll.
Seiring
waktu berjalan kami tumbuh dewasa, kaka saya sudah menyelesaikan sekolah
menengah kejuruannya, dan mulai bekerja membantu mencari nafkah keluarga. Dan
sayapun masuk SMA. Bukan hanya umur yang bertambah, namun pengalaman, wawasan,
dan kedewasaanpun bertambah. Dari sini saya sudah mulai berfikir, posisi saya
dalam keluarga ini. Dengan meninggalnya ayah saya, otomatis lelaki tertua dalam
keluarga ini adalah saya sendiri, dan secara tidak langsung saya harus mampu
menggantikan peranan kepala keluarga di sini, dalam artian menjaga keutuhan
keluarga ini. Namun saya ingin meringankan beban yang tertancap di pundak ibu
saya, entah bagaimana caranya saya harus mampu membiayai kebutuhan hidup saya
sendiri, lalu saya mulai mencari duit demi kebutuhan sehari-hari saya, dari
menjadi tukang parkir di masjid, mengamen, dan pekerjaan lainnya, dan yang
terpenting saya memperoleh rezei yang halal.
Setelah
kakaku lulus dari sekolah menengah kejuruannya, beban ibuku sedikit terbantu,
kakaku langsung bekerja di salah satu hotel ternama di Jakarta. Dan ikut
membantu membiayai kebutuhan keluarga dan adik-adinya yang masih bersekolah.
Tak terasa
sedikit lagi saya akan melepas seragam putih abu-abu, banyak rencana yang sudah
saya pikirkan setelah saya lulus SMA. Salah satunya saya ingin langsung bekerja
dan membiarkan ibuku untuk beristirahat dan menikmati masa tuanya. Namun takdir
berbicara lain.
Saya sejak
SD bersekolah dibantu dari yayasan sampai SMA, ya walaupun tidak seberapa dalam
membantu, namun itu sangat membantu saya dalam bersekolah. Dan salah satu kaka
yayasan yang bernama Rizki berbicara kepada saya, menanyakan mau kemana saya
setelah lulus SMA.? Dengan tegas saya menjawab, saya ingin langsung bekerja,
entah apa pekerjaannya, yang terpenting saya dapa meringankan beban orang
tuaku. Namun ka Rizki berbicara lagi kepadaku, “lalu pekerjaan apa yang akan
kau dapatkan denga tamatan SMA.? OB, itupun kalo dapet, kalo tidak. Lebih baik
kau meneruskan sekolahmu kejenjang yang lebih tinggi, dengan kuliah hidupmu
dimasa depan akan lebih terjamin. Tak usah kau memikirkan biaya, masalah biaya
nanti yayasan yang akan mengurus.” Lalu saya terdiam dan berfikir. Dan ka
Rizkipun memberi saya waktu untuk berfikir.
Saya
langsung membicarakan hal ini kepada ibuku. Memepertimbangkan apa yang terbaik
unukku dan keluarga ku. Lalu ibuku pun setuju untuk melanjutkan pendidikan ku
ke jenjang yan lebih tinggi. Namun di dalam hatiku masi ada gejolak untu
menerimanya, namun saya berfikir idak ada salahnya untuk dicoba.
Lalu saya
ikutlah ujian masuk perguruan tinggi negeri, tanpa persiapan apapun, saya
mengikuti ujian tersebut. Sambil menunggu hasilnya, saya selalu berdoa kepada
Allah untuk memeberian yang terbaik untukku. Lalu saat-saat pengumuman ujianpun
datang, apapun hasilnya, saya tau itulah yang terbaik yang di berikan oleh
Allah kepada saya. Dan hasilnyapun tak disangka saya diterima di Universitas
Negeri Jakarta dan saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Entah perasaan
apa yang saya rasakan setelah mengetahui hasil tersebut, bangga, senang, sedih,
tidak percaya, semua menjadi satu. Entah apa yang direncanakan oleh Allah
kepada saya. Namun sebesar apapun rencana kita, rencana Allah lebih hebat dan
besar dari apapun.
Entah apa
jadi kedepannya, saya hanya bisa menerima, mulai saat itu saya mulai sadar,
dalam hidup ini jangan kau jadikan impianmu, tujuanmu, atau rencanamu menjadi
sebuah acuan, karena itu akan menjadikan sebuah ambisi yang meracunimu. Saya
tidak tau apa yang akan terjadi di sana, namun yang saya tau terus jalani hidup
yang kita hadapi sekarang dengan sepenuh hati, apapun yang kita hadapi saat
ini, itu akan mempengaruhi apa yang kita dapatkan dikemudian hari.
Setelah
saya diterima di Universitas, otomatis rencana awal saya tidak terealisasikan,
entah apa perasaan ibuku dan keluargaku mendengar saya diterima di Universitas
Negeri, namun saya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, saya telah
mengalahkan beratus-ratus mungkin beribu-ribu orang untuk masuk ke Universitas
ini.
Sampai saat
ini saya masih menuntut ilmu di bangku kuliah, tentu saja ada sedikit rasa iri
melihta teman-teman SMAku sudah mulai melangkah kedepan mencari rezeki untuk
masa depan, dan saya masih disini berdiam diri, namun saya tau berdiam diri
saya adalah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari sekencang-kencangnya
kedepan, saya yakin itu. Dan sampai saat ini pertanyaanku sewaktu kecil,
tentang apa tujuannya saya dilahirkan di dunia ini belum saya temukan
jawabannya. Namun yang saat ini saya tau adalah tujuan saya dilahirkan di dunia
ini, dalam keluarga ini, menjadi anak kedua dari tiga bersaudara, diberi nama
oleh orang tuaku dengan nama Adi Ciputra, saya yakin akan mampu mengubah diri
saya sendiri ke arah yang lebih baik, membawa keluarga ini kekehidupan yang
lebih baik, hanya itu yang saya tau saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar